Jafri Sastra Bantu Lompatan Prestasi PSIS

SEMARANG (Asatu.id) – Nama Jafri Sastra kini semakin moncer di kalangan pecinta sepak bola Kota Semarang. Maklum saja, berkat sentuhan tangan dingin pelatih asal Minang tersebut, untuk sementara ini tim Kota Lumpia mampu menjauhi zona degradasi.

Bahkan, PSIS mengalami loncatan prestasi yang berarti, yakni menduduki peringkat 10 besar Liga 1 musim 2018. Tiga kali kemenangan pada laga  terakhir membuat  tim yang dibesut Jafri Sastra tidak hanya mampu merealisasikan target manajemen,  tapi juga menepis keraguan terhadap kemampuan pelatih baru yang 23 Agustus lalu direkrut untuk menggantikan Vincenzo Alberto Annese.

Laskar Mahesa Jenar yang mengoleksi 36 poin dari hasil 10 kali menang, 6 seri dan 11 kalah kini bertengger di urutan 9 klasemen sementara Liga 1. Hasil ini sangat membanggakan, karena sebelumnya PSIS sempat terbenam di peringkat 16 dari 18 peserta, sehingga berada di zona degradasi.

Kebangkitan PSIS ini mulai terlihat pada pekan 23. Pada laga yang dihelat di Stadion Moch Soebroto, Magelang, pasukan Jafri Sastra mampu melibas sesama tim kandidat degradasi, Perseru Serui dengan kemenangan telak 4-2.

Kedigdayaan berlanjut saat laga tandang ke markas Persela Lamongan. Laskar Mahesa Jenar mampu menahan imbang 1-1, meski berada dalam tekanan suporter fanatik Persela.

Tren positif kembali ditunjukkan Bruno Silva dan kawan-kawan dalam lawatan ke kandang PS Tira dengan memenangi duel dengan skor tipis 1-0.

Terakhir, PSIS menunjukkan kegarangannya dengan melumat tim tangguh asal Sumatera Selatan, Sriwijaya FC. Pada menit-menit akhir pada masa  injury time, Bruno Silva mampu menjadi pahlawan PSIS dengan mencetak gol penentu kemenangan, 1-0.

Bersama pelatih anyar, PSIS semakin mantap memapaki laga-laga lanjutan Liga1. Kemantapan ini bertambah besar seiring dengan semakin padunya duet ujung tombak mereka, Bruno Silva dan Hari Nur.

Namun, PSIS jangan sampai terlena dengan kebangkitan dan kegarangan yang ditunjukkan pada laga-laga terakhir. Justru, kemenangan ini harus menjadi cempeti untuk menunjukkan kualitas tim yang lebih baik lagi.

Unggul tujuh poin dari tim teratas di zona degradasi secara matematika belum bisa dijadikan tolak ukur untuk keselamatan dari ancaman degradasi. PSIS sendiri masih harus melakoni tujuh pertandingan sisa, tiga laga tandang dan empat laga kandang.

Tujuh laga sisa itu, yakni Mitra Kukar vs PSIS (27/10), PSIS vs Arema FC (4/11), Borneo FC vs PSIS (9/11), PSIS vs Persib Bandung (18/11), Madura United vs PSIS (26/11), PSIS vs Persipura Jayapura (1/12) dan Persebaya Surabaya vs PSIS (8/12).

Melihat tren positif yang ditunjukkan anak-anak Kota Semarang, peluang tim Kota ATLAS untuk tetap eksis di Liga 1 tampaknya cukup besar. Dengan pengalaman dan kejelian sang arsitek Jafri Sastra dalam mengotak-atik formula tim dan pemain, PSIS dan masyarakat Kota Semarang tidak perlu ragu terhadap eksistensi tim kesayangan di musim depan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *