Gali Potensi dan Lestarikan Budaya melalui Latihan Membatik

SEMARANG (Asatu.id) – Batik merupakan salah satu karya seni asli Indonesia yang sudah diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya nonbendawi. Oleh karena itu kita wajib untuk memelihara dan melestarikannya agar batik tetap ada hingga anak cucu kita.

Membatik juga bukan hal yang sulit dan perlu keahlian khusus (skill), karena membatik merupakan ilmu terapan yang tidak perlu banyak teori. Jadi siapa saja pasti bisa melakukannya. Hasil karya seni batik memiliki nilai ekonomis dan harga jual cukup tinggi yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.

Berangkat dari sini, Ketua Persit KCK Cabang XLI Kodim 0720/Rembang Endah Andi Budi Sulistianto mengajak pengurus beserta anggota Karang Taruna dan ibu-ibu PKK Desa Pasedan untuk belajar membatik di Balai Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Kegiatan yang dikemas dalam rangka mendukung kegiatan non fisik TMMD Reguler 103 Kodim 0720/Rembang, selain untuk menumbuhkan bakat dan minat membatik warga Desa Pasedan, juga untuk membangkitkan dan memunculkan ide kewirausahaan sekaligus nguri-nguri/melestarikan budaya asli Indonesia yang sudah diakui dunia.

”Sebagai orang Indonesia harus nguri-uri kebudayaan asli Indonesia yang sudah diakui dunia, ini asli budaya kita,” tegas Endah membangkitkan semangat peserta yang hadir.

Apalagi di Rembang, khususnya Kecamatan Lasem, terdapat sentra kerajinan batik yang cukup terkenal. Bukan tidak mungkin Desa Pasedan ke depan akan menjadi mitra yang dapat memenuhi permintaan batik dari sentra batik yang ada di Lasem. Apalagi bila akses jalan yang kini sedang dikerjakan sudah terbuka, sehingga komunikasi dan transportasi menjadi lebih cepat dan lancar.

Tidak main-main, pelatihan membatik di lokasi TMMD yang diikuti lebih dari 50 orang ini langsung didatangkan pelatih dari Home Industri Batik Tulis Lasem, Sri Ambarwati dan Soni Elfianto.

Lasem memang sudah terkenal sebagai sentra kerajinan batik yang motifnya sangat unik, karena batik khas Lasem merupakan perpaduan budaya Jawa dan Cina. Sungguh suatu pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, karena latihan yang dilaksanakan di desa yang cukup terpencil ini dilatih langsung oleh oleh ahlinya dari Lasem.

Tahap-demi tahap, dengan penuh kesabaran dan sembari mempraktikkan cara membatik, dengan memegang canting dan membubuhkan lilin khusus di atas kain.

Diterangkan Sri Ambarwati, batik adalah ilmu terapan, sehingga tak perlu banyak teori, langsung praktek. Keterampilan menggunakan canting dan menggoreskannya di atas kain sangat tergantung pada bakat seni yang dimiliki masing-masing orang.

“Setiap orang akan berbeda hasilnya, tergantung pada goresan yang ditimbulkan. Batik tulis akan terlihat detailnya, agak lebih berbeda antara tiap motifnya, karena goresannya juga berbeda”, terang Sri dan Soni membangkitkan semangat para peserta.

Pelatihan singkat yang banyak peminatnya ini dibagi menjadi tiga sesi, yakni membuat pola, mencanting dan mewarnai.

Sri berharap, dengan latihan singkat ini bisa tergambar bagaimana cara membatik yang baik dan menghasilkan batik yang bagus, sehingga bisa menjadi salah satu peluang usaha bagi masyarakat di Pasedan ini. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *