Masyarakat Nelayan Sulit Beralih ke Kapal Fiber

SEMARANG (Asatu.id) – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan penawaran kepada para nelayan Tambak Lorok, Semarang Utara, untuk memberikan bantuan kapal fiber Sabtu (20/10). Jawaban para nelayan berkaitan dengan hal itu masih setengah-setengah lantaran selama ini masyarakat masih menggunakan kapal berbahan kayu untuk kapal-kapal yang mereka miliki.

“Kenapa sejauh ini belum ada yang pakai fiber?” pertanyaan itu dijawab serempak oleh para nelayan dengan penolakan hingga mengundang pengertian Menteri dari Kabinet 2014-2019 itu.

“Kita bantuannya tidak pakai kayu, kita bantuan semua pakai fiber. Dulu Cilacap, Pangandaran pakai kayu tapi sudah pakai fiber. Hutan sudah habis, kayunya sudah tidak ada,” kata Menteri Susi Pudjiastuti meminta pengertian para nelayan.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Lalu Syafriadi mengatakan, memang tidak mudah mengalihkan masyarakat dari penggunaan kapal kayu. Hal itu lantaran menurutnya kapal kayu sudah membudaya di masyarakat sehingga sulit menggantinya dengan kapal fiber.

“Tidak mudah beralih ke fiber karena ini Pantura kulturnya kapal kayu,” terangnya.

Ia menjelaskan, penawaran bantuan kapal fiber tersebut lantaran kayu saat ini sudah semakin langka. Menurutnya dengan semakin langkanya kayu di tengah-tengah Indonesia yang merupakan paru-paru dunia ini, sudah saatnya masyarakat juga berpikir tentang ketersediaan oksigen salah satunya adalah dengan menghemat penggunaan kayu.

“Kita mendapatkan substitusi untuk menjaga hutan kita artinya pemerintah internasional memberikan perintah ke Indonesia untuk menjaga hutannya. Nah, artinya kita harus menjaga hutan kita dengan tidak menggunakan hutan kita untuk yang lain,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *