Komunitas Wayang Gaga Garap Pandawa Lima di Festival Bodjong

SEMARANG (Asatu.id) – Komunitas Wayang Gaga saat ini tengah menggarap lima tokoh pewayangan Pandawa Lima. Proses pengerjaan wayang yang dibuat dari bambu, tali dan kain ini lantaran persiapan untuk menyambut Bodjong Festival yang digelar pada 20 Oktober besok di Jalan Pemuda, Semarang.

“Kalau tingginya, Werkudara yang paling tinggi yakni 3 meter. Kalau yang lainnya hanya 2,5 meter,” kata Koordinator Wayanggaga, Pambuko Septiardi.

Pambuko menjelaskan konsep Pandawa Lima yang dibuatnya ini merupakan konsep futuristik yang diberikan panitia Bodjong Festival, dia tafsirkan menjadi wayang sebagai panglima perang masa depan.

“Kalau wayang yang kami bikin, kami gambarkan mereka sebagai panglima perang masa depan. Dengan warna-warni yang melekat pada tubuh mereka,”ungkapnya.

Pambuko menambahkan, wayang itu akan dipajang sebagai ruang photobooth di Bodjong Festival mulai tanggal 20 Oktober besok.

Sementara itu, Bambang Tirta, salah satu anggita Wayang Gaga mengungkapkan bahwa masa depan bumi dipenuhi masalah lingkungan. Oleh karenanya, banyak warna ‘ngejreng’ yang digunakan.

“Bisa saja soal lingkungan menjadi permasalahan masa depan. Dunia kerlap-kerlip kami gambarkan dari warna yang kami pakai. Semoga ini menjadi pengingat bagi banyak orang,” ujarnya.

Bambang mengungkapkan dari lima wayang, hanya satu wayang, Werkudara yang tidak memakai topeng. Menurutnya, karena dari Pandawa Lima, hanya Werkudara yang memiliki karakter kuat sebagai pemberani dan sangat berwatak ksatria.

“Werkudara hampir memiliki seluruh karakter ksatria yang dimiliki saudaranya. Werkudara juga jujur dan berani, bahkan kepada dirinya sendiri,”ungkapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *