Hentakan “Bento” Tutup Rangkaian Dies Emas Kerapu

CAPTION : Ketua Umum Kerapu, Abdul Kadir Karding bersama vokalis Seventeen Ifan, membawakan “Bento” dalam panggung Gebyar Kerapu yang menutupp rangkaian Dies Natalis 50 FPIK Undip, Sabtu (13/10) malam.

SEMARANG (Asatu.id) – Irama bernuansa romantis mendayu mengiringi penutupan “Gebyar Kerapu” di halaman kampus Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro Semarang, Sabtu (13/10) malam. Lantunan lagu yang dibawakan Ifan, vokalis Seventeen membuat histeris pengunjung.

Melalui salah satu lagu hits “Jaga Slalu Hatimu”, Ifan membawakan nuansa syahdu di kampus Tembalang yang temaram. Ifan juga menggiring romantisme masa lalu melalui “Menghitung Hari”, lagu yang pertama kali dibawakan oleh Krisdayanti.

Kejutan hadir di tengah Ifan melantunkan lagu-lagu romantis. Ketua Umum Keluarga Alumni Perikanan Undip (Kerapu), Abdul Kadir Karding tiba-tiba menyeruak dari tengah penonton dan hadir di panggung. Karding mengajak Ifan menembangkan lagu Bento milik Iwan Fals.

Karding yang alumnus FPIK Undip memberikan semangat kepada penerusnya di kampus agar tetap membawa nama harum civitas melalui karya mereka. “Saya belum apa-apa dibandingkan kalian,” ujar Anggota Komisi III DPR RI ini disambut tepuk tangan antusias pengunjung yang sebagian besar adalah mahasiswa FPIK.

Panggung hiburan Gebyar Kerapu menutup rangkaian Peringatan Dies Natalis 50 tahun Kerapu. Panggung diramaikan dengan sejumlah artis ibukota, antara lain Tiwi, Bagindas, Ifan Seventeen, dan diramaikan dengan Router Band.

Suasana bermalam minggu di kampus terasa hangat ditemani duo MC Tommy Kurniawan dan Saleh Ali Bawazier yang lebih akrab dikenal Said Bajuri.

Karding mengungkapkan, Dies Natalis Emas Kerapu merupakan penghargaan para terhadap keberadaan FPIK dengan segala perjuangan para tokohnya. Tidak terasa, sudah 50 tahun FPIK berdiri dan melahirkan alumni melalui karya-karya mereka yang tertoreh di penjuru tanah air.

“Rangkaian kegiatan ini merupakan apresiasi kami kepada para pendahulu yang memperjuangkan keberadaan FPIK dan karya-karya yang tertoreh oleh para alumni selepas lulus dari kampus,” terangnya.

Karding berpesan, agar mahasiswa yang saat ini tengah menimba ilmu di FPIK akan meneruskan jejak para alumni untuk tetap berkarya pada kemaritiman tanah air. Menurutnya, poros maritim adalah salah satu hal yang saat ini harus mendapatkan perhatian dan harus dilanjutkan sebagai salah satu bentuk menjaga kekayaan tanah air.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *