Dinners Club: Bahas Isu Perempuan dalam Jamuan Makan Malam

SEMARANG (Asatu.id) – Dinners Club, adalah instalasi seni kontemporer karya seniman Lenny Ratnasari Weichert yang mengangkat isu wanita dan sedang dipamerkan di Bienalle Jawa Tengah, tepatnya dipajang di gedung PPI Kota Lama Semarang.

Bienalle Jawa Tengah 2018 sendiri merupakan perhelatan yang ke dua yang digelar pada tanggal 7 – 21 Oktober 2018 di beberapa gedung Kawasan Kota Lama. Dalam pameran senirupa ini diikuti oleh berbagai seniman Indonesia dengan mengangkat tema The Future of History.

Lenny dalam karyanya menampilkan sebuah meja makan kayu berbentuk bundar dengan penataan meja layaknya pertemuan makan malam bersama sembari menonton film Gerwani yang juga di disutradarai olehnya. Perjamuan tersebut dihadiri oleh para perempuan berpengaruh dari berbagai bidang baik dalam maupun luar negeri.

“Instalasi ini bisa diibaratkan dengan pembicaraan di meja makan dari representasi perempuan-perempuan berpengaruh,” ujar Dominika dari voluteer Bienalle Jateng 2018 memberi penjelasan mengenai Dinners Club.

Tertulis di tiap serbet meja makan, pertemuan tersebut dihadiri oleh Venus, dewi kecantikan dari mitologi Yunani. Pahlawan Indonesia Laksamana Malahayati dan Colliq Pujie, filusuf Rusia Helena Blavatsky. Siti Khadijah seorang, pengusaha dan istri nabi Muhammad, Mother Teresa serta Dewi Sri dan Dewi Kwan Im.

Melalui Dinners Club Weichert membayangkan bagaimana representasi perempuan di bidang yang mereka tekuni berdiskusi mengenai persoalan perempuan yang hingga saat ini belum terselesaikan.

“Bayangkan bagaimana seorang Siti Khadijah memikirkan nasib Marsinah, atau Helena Blavatsky menyaksikan nasib eks-Gerwani. Di sinilah mereka membicarakan persoalan perempuan Indonesia yang sampai sekarang mungkin belum terselesaikan,” papar Weichert.

Di meja juga terdapat nama Aung San Suu Kyi dengan piring dan peralatan makan tertutup. Belum pasti mengenai berbedanya penataan meja politikus sekaligus penasihat negara Myanmar tersebut. Namun terkait namanya beberapa isu sosial mengenai etnis Rohingnya dan penangkapan terhadap tiga pers yang menkritik pemerintahannya, bisa menjadi alasan Weichert menutup piring Suu Kyi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *