Ratusan Warga Jateng Idap Gangguan jiwa

SEMARANG (Asatu.id)  – Ratusan warga Jawa Tengah mengidap gangguan jiwa, sehingga sebagian dari mereka terpaksa dipasung oleh keluarganya. Mereka yang mengalami gangguan jiwa itu tersebar di 35 kabupaten/kota di Provinsi Jateng.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Arfian Nevi mengatakan berdasarkan data instansi pada 2018, tercatat 464 orang mengalami gangguan jiwa.

“Sebagian dari mereka ada yang dipasung keluarganya. Alasan pemasungan, di antaranya takut mengganggu orang lain atau malu memiliki keluargaan yang mengalami gangguan jiwa,” kata Arfian Nevi, di Semarang, Rabu (10/9).

Pengacu pada kasus tersebut, Dinkes Jateng meminta keluarganya untuk melepaskan dari pemasungan, dan mengarahkan agar penderita gangguan jiwa mendapatkan perawatan intensig guna menyembutkan penyakitnya.

Dia menilai apa pun alasannya, tindakan pemasungan merupakan tindakan yang berbahaya, dan bisa mengancam keselamatan penderita ganggungan jiwa.

“Gangguan jiwa akut atau berat harus ada pengobatan yang teratur.  Penderitanya pun tidak boleh dipasung,” ujarnya pada diskusi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di kantor Dinkes Provinsi Jateng.

Arfian mengajak para pemangku kepentingan lintas sektoral agar  berperan aktif untuk menyelesaikan kasus pemasungan orang dengan gangguan. “Semua penderita gangguan jiwa yang dipasung harus dibebaskan. Mereka perlu mendapat perawatan secara maksimal, bukan dipasung,” katanya.

Menurutnya, permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia, termasuk di Jateng, harus ditangani secara sistematis mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *