Tidak Tepat Hubungkan Musibah dengan Fenomena Alam dan Politik

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, Dr KH Ahmad Darodji MSi menyatakan, umat diingatkan untuk memahami musibah dan bencana yang merupakan ketetapan Allah, sehingga harus dihadapi dengan pasrah dan tawakal.

Kiai Ahmad Darodji juga meminta semua pihak untuk muhasabah atau mawas diri, tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak produktif.

”Apalagi menghubung-hubungkan musibah tersebut dengan fenomena alam dan politik. Sangat tidak tepat,” katanya.

Di sisi lain, menurut Kiai Ahmad Darodji, berbagai bencana yang terjadi, baik di masa silam maupun sekarang, menjadi salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

”Dalam waktu sekejap bencana yang menimpa, seperti gempa, tsunami, banjir, badai (angin topan), gunung meletus, dan yang lain, telah menghancurkan berbagai tempat di belahan muka bumi ini. Sekian ratus ribu jiwa melayang, baik manusia maupun hewan yang berada di daratan dan lautan,” katanya.

Agama mengajarkan manusia untuk bersabar menghadapi segala musibah tersebut. Selain bersabar, dia mengingatkan supaya memandang bencana alam sebagai pelajaran, peringatan, bukan sekadar fenomena alam biasa. Sementara itu umat yang tidak terkena bencana jangan merasa aman.

”Kita sudah banyak diingatkan Alquran tentang hal ini. Seringkali seseorang merasa aman dari suatu musibah atau bencana karena merasa bahwa dirinya berada di radius aman. Ingat peristiwa Kan’an putra Nabi Nuh yang merasa aman di gunung ternyata tetap terseret banjir yang dahsyat,” katanya.

MUI Jateng pun menyerukan umat Islam untuk melakukan shalat ghaib bagi korban meninggal akibat bencana tsunami di Palu, Donggala, dan daerah lain di Sulawesi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *