Wali Kota Hendi: Tingkatkan Optimisme, Kuatkan Ekonomi Kota Semarang

FOTO: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi/ Humas Pemkot Semarang.doc

SEMARANG (Asatu.id) – Penurunan nilai mata uang di beberapa negara berkembang termasuk Negara Indonesia menyebabkan kondisi tersebut  mengancam Kota Semarang.

Kota Semarang menjadi daerah dengan ketimpangan masyarakat terbesar di Indonesia saat terjadi saat terjadi krisis ekonomi global pada rentang tahun 2008-2009.
Ketimpangan masyarakat miskin dan kaya di Kota Semarang mengalami kenaikan tajam, dari yang semula pada tahun 2008 ada pada point 0,26 menjadi 0,37 pada tahun 2009.
Angka tersebut terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan ketimpangan masyarakat sebesar 0,37 di tahun 2009. Dibandingkan kota lain jauh lebih kecil dari Semarang, antara lain Kota Solo yang sebesar 0,27, Salatiga dengan catatan, 0,29, dan Kendal ada pada angka 0,22.
Kondisi hampir sama ketimpangan masyarakat yang dialami Kota Bandung sebesar 0,37, terbesar dibandingkan dengan Kota Surabaya yang mampu bertahan di angka 0,32 bahkan Kota Denpasar mammpu menjaga ketimpangan di titik 0,26.
Selain terkait ketimpangan masyarakat, tren positif Kota Semarang untuk mewujudkan kesetaraan, saat ini juga terlihat dari penurunan angka kemiskiskinan yang terjadi di Kota Semarang.
Selama era kepemimpinan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Kota Semarang dalam data BPS mampu melakukan penurunan angka kemiskinan sempurna (tanpa fluktuasi) dari tahun 2013 sebesar 5,25% menjadi 4,62% di tahun 2017.
Bahkan index keparahan kemiskinan di Kota Semarang tercatat sangat kecil di angka 0,12% yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin dan kaya semakin kecil.
“Kita lihat beberapa catatat di tahun ini contohnya untuk meyakinkan, pertama kalinya dalam sejarah bahwa pada saat Bulan Ramadhan, inflasi di Kota Semarang justru turun, dan harga-harga juga stabil, ini membuktikan bagaimana kokoh dan kuatnya ekonomi kita saat ini. Jadi mari tingkatkan optimisme agar dapat semakin saling menguatkan”, ajaknya.
Apa yang disebutkan Hendi merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tingkat inflasi di Kota Semarang saat Ramadhan tahun ini pada bulan Mei 2018 berhasil ada pada angka -(minus)0,09%. Padahal dua tahun sebelumnya saat Ramadhan berlangsung di bulan Juni 2016, inflasi Kota Semarang tercatat amat tinggi pada angka 1,05%. Dan juga di tahun 2017, inflasi di Kota Semarang tercatat juga masih tinggi sebesar 0,37%. Dengan nilai inflasi di bawah 0% itulah tren harga-harga pasaran di Kota Semarang untuk pertama kalinya dalam sejarah dapat mengalami penurunan positif.
“Kita bicaranya data saja, kalau dikatakan ada orang yang punya usaha lalu gagal, atau bahkan juga ada masyarakat miskin yang masih susah hidupnya ya pasti ada. Angka kemiskinan sebesar 4,62% bukan jumlah yang sedikit saya akui. Tapi kalau bicaranya ‘semakin banyak’ atau ‘bertambah’ ya tunggu dulu, karena datanya toh tidak begitu dan optimisme harus dibangun”, terangnya.
“Insya Allah kekhawatiran tentang adanya gejolak ekonomi di Indonesia, khususnya Kota Semarang dalam kondisi perlambat ekonomi global ini tidak akan terjadi. Karena sudah jelas apa yang dibahas dalam G20, bahwa tren kenaikan nilai tukar ini karena Bank Sentral menaikkan suku bunga, meskipun di sisi lain kondisi ekonomi domestik masih kuat dan kokoh. Ini yang harus digarisbawahi”, pungkas Wali Kota Semarang yang juga politisi PDI Perjuangan tersebut.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *