Bambang Eko Purnomo Apresiasi Kinerja Positif Bank Jateng

Bambang Eko Purnomo, Anggota Komisi C DPOR Jateng dan Ketua MPW Pemuda Pancasila Jateng

SEMARANG  (Asatu.id) –  Anggota Komisi C DPRD Jateng, Bambang Eko Purnomo mengapresiasi kinerja positif manajemen Bank Jateng. Pasalnya, sepanjang 2017 bank milik Pemerintah Provinsi Jateng itu mampu membukukan laba bersih Rp 604,685 miliar, di tengah situasi ekonomi yang belum menunjukkan stabil.

Politisi Partai Demokrat itu menilai raihan laba Bank Jateng pada 2017 menunjukkan kinerjanya tidak terpengaruh inflasi, bahkan mampu memberikan kontribusi deviden kepada Pempvov Jateng selaku pemegang saham pengendali dengan share kepemilikan saham 56,42% akan menerima sebesar Rp 341,139 miliar pada tahun ini.

Di sisi lain, menurut Ketua MPW Pemuda Pancasila Jateng ini, aset Bank Jateng saat ini (per Juni 2018) mencapai Rp 65,17 triliun mengalami pertumbuhan 5,46 (yoy).

“Peningkatan aset ini saya harapkan bisa menjadi modal yang bagus bagi Bank Jateng untuk memperluas lini usahanya dan mengembangkan berbagai inovasi,” ujar Bambang.

Sementara dana pihak ketiga (DPK), lanjut dia,  juga mencatat pertumbuhan tinggi  sebesar Rp 52,11 triliun. atau tumbuh 2,59 (yoy). “Pertumbuhan ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Bank Jateng semakin meningkat,” ujarnya.

Soal ekspansi kredit, dia mengingatkan Bank Jateng agar tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian. Apalagi, RUPST Bank Jateng telah menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan periode 2017. Selain itu, Bank Jateng juga memutuskan membagikan dividen sebesar 50,75% dari laba bersih 2017 sebesar Rp 604,685 miliar.

Menurut Bambang, penetapan dividend pay out ratio ini seiring dengan kinerja perusahaan yang semakin baik dan tingginya rasio kecukupan modal (CAR 17,42%). Besaran dividen itu telah memperhatikan kebutuhan perseroan serta sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham.

Bambang optimistis realisasi pembagian dividen Bank Jateng hingga akhir tahun ini diproyeksikan bakal naik dari yang ditargetkan senilai Rp 333 miliar. Bahkan triwulan II hingga Juni 2018 telah dilaporkan mencatat sebesar Rp 341,139 miliar atau sudah melampui ditargetkan yang ditetapkan.

Bisnis kredit konsumer perbankan, kata dia, masih menjadi andalan bagi sebagian bank untuk mengerek pertumbuhan. Pada sektor ini, Bank Jateng mampu menyalurkan kredit produktif lebih tinggi (21,41% yoy), dibanding kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 8,33% (yoy).

Bambang mengatakan kredit usaha produktif yang tumbuh 21,41% (yoy) tersebut ditopang dari kredit proyek, sindikasi dan KUR. Kredit sindikasi hingga periode Juni 2018 terealisasi sebesar Rp 2.003 triliun mengalami pertumbuhan 17,60% (yoy).

Sementara dari laporan kinerja Bank Jateng, tuturnya, panyaluran Kredit Mikro Sejahtera Jateng 25 (KMJ-25) tanpa agunan untuk pelaku usaha kecil menengah (UKM) juga semakin meningkat. Begitu juga rasio keuangan dalam kreteria baik, termasuk CAR sebagai dampak pelaksanaan revaluasi aset tetap.

Komisi C DPRD Jateng sangat mengapresasi kinerja Bank Jateng. Namun Bambang meminta semua pihak di jajaran Bank Jateng jangan merasa cepat puas atas capaian tersebut. Kinerja mesti terus ditingkatkan melalui dukungan teknologi dan inovasi.

“Kinerja harus tetap berpacu, dunia perbankan tantangannya luar biasa. Tingkatkan semua dengan sistem teknologi yang ada,” tuturnya.

Dia meminta semua jajaran pegawai Bank Jateng dari level bawah hingga teratas terus meningkatkan kinerjanya. Seluruh jajaran direksi, komisaris, serta seluruh pegawai diminta melakukan evaluasi kerja paling tidak setiap bulannya. “Saya minta jajaran semua dari level paling bawah, direksi, komisaris untuk maksimal dalam bekerja,” tegasnya.

Selain itu, dia menambahkan analisa evaluasi juga harus dilakukan, apa pencapaian target yang sedang dilakukan dan apa yang belum. Bahkan harus ada terobosan yang mampu meningkatkan kinerja keuangan Bank Jateng.

Analisis uang beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan pada Juni 2018 kredit konsumsi naik 10,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.444,8 triliun.

Bila dirinci berdasarkan jenis kreditnya, kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh paling tinggi sebesar 13,5% yoy menjadi Rp 433,7 triliun pada Juni 2018, disusul oleh kredit multiguna yang meningkat 13,4% yoy menjadi Rp545,5 triliun dan hanya kredit kendaraan bermotor (KKB) saja yang tumbuh satu digit 9,5% menjadi Rp136,3 triliun.

Bank yang fokus ke kredit konsumsi seperti Bank Jateng harus optimistis segmen ini  bakal cemerlang di semester II-2018, dengan tetap menggenjot kredit produktifnya agar komposisinya mendekati ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni 60% produktif dan 40% konsumtif. Bambang mengatakan pihaknya akan mendorong pertumbuhan tersebut dan menyarankan di antaranya dengan memperluas kerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta, melakukan cross selling dengan korporasi yang telah menjadi nasabah Bank Jateng.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *