Pemecahan Rekor Muri Tari Gemu Famire Gugah Masyarakat Indonesia

SEMARANG (Asatu.id) – Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar Pemecahan Rekor Muri Tari Gemu Famire secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Untuk wilayah Jateng dan DIY,  digelar di 5 tempat yakni Lap.  Wijayakusuma Purwokerto,  Lanud Adi Sucipto Yogyakarta, Lanud Adi Sumarmo Surakarta, Lap.  Jend.  Sudirman Ambarawa dan Lap. Simpanglima Semarang.

Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke 73 sekaligus sebagai wujud nyata dalam melestarikan dan menjaga kearifan budaya bangsa.

“Pemecahan Rekor Muri secara serentak hari ini dilaksanakan di seluruh Indonesia baik dari unsur TNI Angkatan Darat, Laut maupun Udara dengan jumlah 305.000 lebih orang di ndonesia. DIY lebih dari 24.000 orang, dengan rincian di semarang 8.000 orang tapi kami yakin di Simpang Lima ini lebih dari itu, wilayah 071 sekitar 3500 orang, 072 sekitar 6000 orang di Jogja, 073 sekitar 3000 orang dan 074 sekitar 3500 orang,” ujar Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, S.I.P.,  M.Si. dalam sambutannya di sela-sela kegiatan senam.

Salah satu titik yakni di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, kegiatan dimulai sejak pukul 06.00 WIB yang dihadiri kurang lebih 8.000 orang gabungan TNI, Polri,  Pelajar dan masyarakat turut ambil bagian pemecahan rekor Muri.

Turut hadir dalam acara tersebut Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono,  Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, S.I.P.,  M.Si., Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, pejabat TNI, Polri dan Pemda ini,  juga diramaikan dengan demonstrasi seni bela diri Kera Sakti yang dipimpin Lettu Agus.

“Semoga kegiatan kegiatan ini dapat menggugah seluruh masyarakat Indonesia untuk mencintai dan melestarikan budaya asli Indonesia,” harapnya.

Ia menambahkan, Lagu Gemu famire yang merupakan lagu asli daerah di Indonesia yang berasal dari Maumere Flores Nusa Tenggara Timur itu diharapkan menjadi lebih dikenal masyarakat Indonesia khususnya dan dapat merambah ke berbagai penjuru dunia.

“Hasil karya hasil kearifan lokal ini telah menjadi suatu kebanggaan dan perlu dijaga eksistensinya,” tegasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *