Stephan dan Sidik, Artikan Makna Budaya Dengan Kolaborasi Piano dan Lukisan

SEMARANG (Asatu.id) – Artikan makna Budaya, pianis muda Indonesia Stephanus Maximilian Harsono “juara Prinses Kristina Konkurs 2014 di Belanda” berkolaborasi dengan Maestro lukis Indonesia Sidik Martowidjojo di MaxiBrain Hall Jalan Rinjani 18 Semarang, Sabtu (25/8) malam.

Melalui jari-jarinya yang lincah, dan karya seni lukis penuh makna, kolaborasi dengan tema makna di setiap sapuan kuas dan dentingan piano itu mampu membius dan menghentikan waktu untuk kembali pada zaman dimana komponis menciptakan lagu tersebut.

Stephanus membawakan lagu Eropa klasik yang memiliki sentuhan romantis saat mendengarkan permainan musiknya.

“Cara paling mudah untuk menyentuh emosi manusia kan melalui lagu yang memang gejolak emosinya penuh, sehingga seolah musik bisa “berbicara” pada para hadirin. Musik yang secara spiritual dan emosi paling kuat adalah musik dari Jaman romantic (abad ke 19 dan awal abad 20),” ujar Stephan saat ditemui usai penampilanya.

Bahkan, saat Stephan membawakan lagu prokofiev yang memiliki dentingan nada yang dingin pun bisa dirasakan pengunjung yang hadir.

“Yang dengar saat saya bawakan prokofiev pasti terasa emosinya , saya saja yang membawakannya sampai merinding apalagi yang mendengarkan,” kata pria yang saat ini sedang studi S2 Piano di Conservatorium van Amsterdam.

‎Menurutnya, lagu yang dibawakannya 60 persen merupakan budaya barat tersebut, menjadi komposisi yang pas untuk berduet dengan pelukis senior Sidik Martowidjojo “pemenang penghargaan Painting Gold Prize and Medaille d’Or dari Carrousel du Louvre Paris”.

Hal tersebut karena gaya lukisan Sidik yang khas ketimuran yang mengambil konsep dari Tiongkok namun dimasak dan diramu dengan gayanya sebagai bangsa Indonesia.

Tema lukisannya ketimuran, namun gaya lukisannya kan Claude Monet dari Perancis.

“Tema lukisannya memang timur, namun gaya atau style lukisannya mirip dengan Monet, maka dijuluk Claude Monet dari Asia,” ujarnya.

Sidik Martowidjojo diberi juluk Claude Monet dari Asia, lanjut Stephan, karena hasil lukisannya hampir senada dengan lukisan-lukisan Claude Monet, pelukis tenar dari Perancis.

Namun teknik dan konsepnya memang dari Tiongkok, dan dibahasakan Indonesia.

“Maka dari itu saya ambil lagu-lagu dari Barat dan dipadukan dengan karya lagu oriental, karena memang esensi karya pak Sidik . Dan dari kegiatan ini, saya harap masyarakat Indonesia bisa jadi masyarakat yang sadar budaya, dan revolusi budaya bukan merubah yang sudah ada namun semoga bisa jadi awalan untuk wadah berbudaya & “makanan” spiritual, baik untuk Semarang & nantinya Indonesia. Ini namanya revolusi,” ujarnya.

Sementara ditanya apa arti budaya, Stephan mengatakan, Kekuatan budaya sangatlah besar. Dimana manusia tidak akan pernah menjadi manusia jika budaya itu dihilangkan.

“Kita ambil contoh saja, Indonesia coba kita hilangkan Borobudur, Lawang sewu, Prambanan, Bahasa Indonesia, kita hilangkan semua dari indoensia, apakah kita masih bisa bilang kalau kita ini Indonesia?. Dan yang lebih ekstrim lagi, coba kita hilangkan musik, seni, emosi, semua dihilangkan yang ada hanya makan dan tidur. Apa kita masih bilang kalau kita ini manusia?,” ungkapnya.

Olehkarenanya, dengan kolaborasi tersebut Ia ingin menggambarakan sebuah budaya yang saling berpadu.

Yakni untuk memberikan pengertian bahwa budaya itu sangatlah indah.

“Budaya fungsinya untuk memberikan identitas kepada kita, melalui kolaborasi Seni Lukis, dan Piano ini seperti halnya kita memadukan dua budaya. Harapanya semua yang hadir disini bisa mengambil makna bahwa kita semua ini makhluk yang berbudaya,” katanya.

Sementara itu, Sidik Martowidjojo mengungkapkan Baik seni musik maupun seni lukis memiliki tujuan yang sama yakni, untuk membawa manusia kepada kasih, dan berbudaya.

“Dalam lukisan itu saya gambarkan seperti ada air yang mengalir, dan angin seperti angin ribut, dan disitu ada satu orang yang sedang memainkan musik. disini kita bisa mengambil filosofi bahwa semua kehidupan itu bergejolak, tidak rata,” paparnnya.

Lebih lanjut, Pelukis berusia 81 tahun itu mengungkapkan, masih banyak orang yang belum menghargai budaya, dan masih banyak orang yang belum sadar bahwa kita hidup di Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat tinggi.

“Yang dipentingkan sekarang itu hanya uang, Kita masih kurang mencintai budaya kita, kurang mencintai hasil karya kita, masih kurang mencintai negara kita, dan uang yang selalu dipentingkan, bukan memenintingkan kesatuan,” ungkapnya.

Diakhir acara, lukisan yg di hasilkan di dedikasikan untuk musium OHD di Magelang. dimana dr Oei Hong Jien datang dan memberi kesan dan pesan pada 2 seniman yg ber kolaborasi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *