Petani Lebih Memilih Penggunaan Pupuk Berbahan Organik

SEMARANG (Asatu.id) – Penggunaan bahan organik dalam pengelolaan sawah, dirasakan positif oleh beberapa petani lokal Kota Semarang. Hal ini mengingat produktivitas hasil tanaman padi semakin sehat dan biaya pengolahan lahan yang relative ringan.

Salah seoarang petani Dukuh Dawung Kedungpane Kota Seamrang, Kasiman mengatakan pengolahan lahan dengan menggunkanan bahan kimia akan menghabiskan biaya Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu untuk sekali semprotan. Sementara untuk kebutuhan penyemprotan dari sejak awal masa tanam hingga masa panen membutuhkan 10 kali semprotan.

“Jika gunakan pupuk urea hanya membutuhkan biaya Rp 105 ribu/sak nya. Dengan satu sak itu isi 50 kilogram pupuk. Dan jika menggunakan bahan organic mampu menghasilkan 6 ton beras per hektarnya,” katanya.

Kasiman menambahkan, bahan organik memanfaatkan air kencing sapi dan air cucian beras. Difermentasi dengan gula jawa dan akar-akaran selama satu minggu, sebelum disemprotkan ke padi. Mampu mengusir hama walang sangit dan wereng. Penyemprotan bahan organik jangka waktunya 60 hari, dilakukan sebanyak 5-6 kali.

“Bisa juga menggunakan uap sekam untuk menyemprot padi. Setelah panen, ternyata beras mampu tahan selama 2 hari setelah dimasak, pulen, dan tidak mudah basi,” imbuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *