Komunitas Kampoeng Hompimpa Regional Semarang Kenalkan Dolanan

SEMARANG (Asatu.id) – Penggunaan gawai yang tidak dibarengi dengan edukasi saat ini menjadi sesuatu yang miris di semua kalangan, terutama anak-anak. Hal itu tidak pelak mengundang perhatian bagi sejumlah komponen masyarakat, salah satunya adalah Kampoeng Hompimpa Regional Semarang, sebuah komunitas dolanan yang beroperasi di daerah Semarang.

Ahmad Misbahul Munir, Ketua Kampoeng Hompimpa Regional Semarang mengatakan, Komunitas tersebut berpusat di Tangerang dengan regional di Jogja, Pontianak dan Semarang. Sementara itu Kampoeng Hompimpa Regional Semarang ini memiliki basecamp di Sekaran, Gunungpati.

Berbagai dolanan tradisional dikenalkan munir dan para anggotanya melalui kampanye-kampanye. Mereka juga kenalkan dolanan melalui berbagai kegiatan untuk menarik minat anak terhadap dolanan itu.

“Banyak sekali permainannya, gasing, kelereng, otok-otok, tali karet, dakon, bakiak, telepon kaleng dan lainnya. Kita kenalkan permainan-permainan itu lewat kegiatan-kegiatan kampanye, seperti di Car Free Day setiap dua minggu sekali, ke sekolah-sekolah dengan berbagai lomba seperti bakiak, balap karung, dan lain-lain,” jelasnya.

Munir mengatakan, minat anak terhadap dolanan saat ini berkurang. Ia menyayangkan hal itu karena menurutnya banyak sekali dolanan yang tentunya memiliki banyak manfaat positif bagi anak, terutama sosialnya.

“Miris lihat anak-anak zaman sekarang permainannya gadget, interaksi antar anak-anak yang lain kurang. Kalau permainan tradisional lebih ke interaksi sosial juga, kita banyak mengekspresikan diri. Lalu kalau permainan tradisional dimainkan lebih dari dua orang jadi rasa individualisme tidak ada,” terangnya.

Ia mengatakan ingin melestarikan salah satu budaya di Indonesia itu. Menurutnya, minat anak terhadap dolanan sebenarnya sangat tinggi. Namun karena kurang ada yang mengenalkan, dolanan seolah sepi peminat.

“Sebenarnya, antusias tinggi banget. Anak-anak awalnya penasaran itu mainan apa kita kenalkan, kita ajari bagaimana mainnya. Kalau di sekolah ataupun di kampung juga ada kita kampanye juga. Awalnya mereka penasaran, kebanyakan awalnya mereka tidak tahu,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *