Inflasi Kota Semarang Tercatat 0,11 Persen

SEMARANG (Asatu.id) – Inflasi di Kota Semarang tercatat 0,11 persen dan menempati posisi kelima dari enam kota di Pulau Jawa. Inflasi tertinggi diduduki Kota Serang dan Yogyakarta dengan inflasi 0,56 persen, dan terendah Kota Surabaya sebesar 0,03 persen.

Secara keseluruhan, Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,10 persen pada Juli 2018. Penyumbang terbesar inflasi adalah beberapa komoditas seperti telur ayam ras, bensin, cabai rawit, mie dan upah pembantu rumah tangga (PRT).

“Komoditas telur ayam naik karena harga pakan ternak naik disebabkan juga nilai tukar rupiah yang merosot sehingga meningkatnya harga pakan ini membuat telur ayam ras naik 0,1048 persen,” kata Sri Herawati, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jawa Tengah, Rabu (1/8).

Sri Herawati memaparkan, inflasi di Jawa Tengah terjadi karena naiknya makanan jadi sebesar 0,65 persen kemudian perumahan 0,21, sandang 0,17, kesehatan 0,21 persen dan pendidikan 0,05 persen.

Di samping komoditas di atas, bahan bakar bensin seperti  pertamax, pertamax turbo, pertamina dex dan dexlite naik antara 3 sampai 11 persen dan menyumbang terjadinya inflasi sebesar 0,0798 persen, disusul cabai rawit 0,0292 persen dan upah pembantu rumah tangga menyumbang 0,0240 persen.

“Upah PRT menyumbang 0,0240 persen dikarenakan setelah Lebaran banyak pembantu rumah tangga kembali bekerja dan biasanya meminta kenaikan upah,” kata Sri.

Sri Herawati juga menjelaskan, jika dilihat tingkat inflasi tahun kalender Juli 2018 terhadap Desember 2017 sebesar 2,04 persen masih lebih rendah dari tahun kalender nasional yang mencapai 2,18 persen. Sedangkan jika dilihat dari tahun ke tahun sebesar 2,68 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan nasional yang mencapai 3,18 persen.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *