Perjuangan Group Kerontjong Karimoeni di Tengah Era Digitalisasi

SEMARANG (Asatu.id) – Derasnya perkembangan era digitalisasi kian menggerus eksistensi musik khas Indonesia. Salah satunya musik kroncong. Apalagi dengan semakin eksisnya genre musik kekinian, seperti pop, hip hop, rege, dan dangdut yang semakin gencar melakukan promosi.

Namun, di tangan 11 anggota yang tergabung dalam Group Kerontjong Karimoeni, musik khas indonesia dengan kombinasi alat musik gitar, cak-cuk, biola, bass, cello, bass, flute, saxophone, nampak mengalun indah dan tetap eksis.

Saat disambangi Asatu.id, Pembina Orkes Kerontjong Karimoeni Semar Maryadi Sucipto mengatakan, saat jaman penjajahan Belanda, musik khas Indonesia ini dimainkan sebagai penyemangat untuk melawan penjajah. Namun seiring dengan pergeseran zaman, musik keroncong itu kian lama kian redup, dan jarang didengar.

“Kami berusaha untuk menghidupkan kembali budaya Jawa yang kini sudah mulai hilang tertelan jaman. Dan terbentuklah grup ini pada 25 Desember 2011, dulu awalnya hanya beberapa personil sekarang sudah berkembang kurang lebih ada 14 personil,” katanya.

Meski tak lagi muda, pria yang akrab disapa Maryadi ini masih terlihat bersemangat untuk menularkan atau mengajarkan anak-anak muda untuk belajar musik keroncong. Salah satu cara yang digunakan itu dengan mengaransemen musik-musik masa kini untuk diubah ke aliran musik keroncong.

“Salah satu caranya ya itu, mengaransemen ulang musik masa kini ke dalam aliran keroncong. Tapi tetap harus tetap pada pakem yang ada. Ini salah satu caranya biar generasi muda mau belajar dan mencintai musik keroncong,” ungkapnya.

Melestarikan musik keroncong, menurutnya, bukan hal yang mudah. Namun tetap harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Musik keroncong sendiri menurutnya ada tiga aliran, yakni keroncong asli, keroncong langgam, dan keroncong stambul.

“Dan yang paling mudah untuk diaplikasikan kepada generasi muda itu keroncong dengan aliran langgam,” ungkapnya.

Sementara itu Doby Hendyanto, Manager Keronjtong Karimoeni menjelaskan jika grup tersebut bisa dibilang adalah organisasi seni atau pun komunitas pencinta keroncong, sehingga setiap manggung, grup tersebut tidak mengedepankan provit oriented semata.

“Karimoeni senang dapat menghibur banyak orang lewat musik keroncong yang dibawakannya. Pasalnya jika orang terhibur dengan musik yang kami bawakan, maka di situlah letak visi dan misi yang Karimoeni,” ungkapnya.

Ia juga mengaku terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk ikut bergabung dan berlatih musik keroncong.

“Di sini bisa dikatakan wadah bagi siapa saja yang ingin belajar musik keroncong dan mencintai musik keroncong,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *