Pergeseran Media Permainan Dorong Klub Merby Sediakan Permainan Tradisional

SEMARANG (Asatu.id) – Permainan tradisional akhir-akhir ini kian mengalami pergeseran peminat. Hal itu seiring dengan perkembangan zaman, di mana anak-anak cenderung memilih untuk bermain menggunakan gawai dibandingkan permainan gerak langsung.

Meskipun demikian, permainan tradisional bukan berarti tidak diminati atau ketinggalan zaman. Sebaliknya, permainan tradisional justru masih relevan jika dipraktekkan sekarang ini.

Menurut Krisna Thiyastika, Manajer Klub Merby, anggapan dolanan tradisional yang diidentikkan dengan permainan zaman dulu adalah salah besar. Ia mengungkapkan, pergeseran permainan anak-anak bukan soal kuno atau tidaknya melainkan terletak pada media yang digunakan.

“Dolanan tradisional jangan diidentikkan dengan mainan zaman dulu, itu salah kaprah. Jika seperti itu, bisa jadi gawai yang sekarang ada akan dianggap mainan kuno pada belasan tahun kemudian. Jadi, pada dasarnya pergeseran mainan anak-anak terjadi pada media yang digunakan,” tuturnya.

Krisna menjelaskan, pergeseran media permainan yang terjadi saat ini bukan hanya dipengaruhi perkembangan teknologi, tetapi lingkungan juga turut andil di dalamnya.

”Permainan tradisional seringkali harus dimainkan dengan partner. Bahkan tidak jarang memerlukan jumlah pemain lebih dari dua orang. Selain itu, beberapa macam dolanan tradisional memang membutuhkan tempat lebih luas. Seringkali anak-anak terkendala lahan bermain di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Misalnya saja untuk bermain lompat tali, enggrang, ular naga, dan permainan tembak-tembakan, membutuhkan arena bermain luas,” papar dia.

Krisna tetap meyakini dolanan tradisional masih relevan pada saat ini. Menurutnya, anak-anak sebenarnya masih menyukai permainan tradisional. Hal itulah yang mendasari Klub Merby untuk menyediakan mainan tradisional.

“Klub Merby menyediakan dolanan tradisional bagi anak-anak yang datang ke sini. Apalagi di sini ada tempat les dan PAUD. Mereka boleh mencoba dolanan tradsional tersebut kapan saja. Ada dakon, pistol-pistolan dari kayu, seruling bambu. Kami memang tidak hanya menekankan pada dolanan tradisional saja tetapi permainan edukatif. Bahkan kami mendukung anak-anak untuk membuat mainan sesuai kreasi mereka,” ujarnya, Sabtu (21/7).

Meskipun demikian, Krisna tidak serta merta menolak permainan modern. Menurutnya, tidak semua permainan modern itu jelek karena semua memang ada jamannya. “Seiring perkembangan zaman, permainan modern dengan gawai lebih digemari dan dianggap lebih mudah diakses. Dolanan tradisional sebenarnya masih digemari anak-anak, namun karena perkembangan zaman menjadi sedikit terlupakan. Hanya saja, orang tua dan anak-anak sekarang tidak banyak yang mengetahui di mana tempat yang masih mempraktekkan kegiatan ini,” tuturnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *