Upaya Pencegahan Wabah Difteri, Dinkes Lakukan ORI

SEMARANG (Asatu.id) – Menanggapi KLB Difteri yang terjadi di Kelurahan Genuk Sari dan Bangetayu Wetan beberapa hari ini, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan melakukan imunisasi di daerah tersebut dengan anak usia di bawah 12 tahun.

“Mulai Jumat kemarin Dinas Kesehatan sudah mengimunisasi anak-anak usia di bawah 12 tahun seluruh kelurahan Genuksari dan Bangetayu Wetan. Ini dilakukan karena warga disana yang sering berinteraksi dengan penderita,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono, Sabtu (21/7).

Lebih lanjut Widoyono mengungkapkan,  upaya ini dinamankan dengan ORI (Outbreak Respons Immunization) yaitu upaya imunisasi dilakukan setelah KLB wabah difteri, tanpa memandang status imunisasi.

“Penyakit difteri kalau sudah diimnunisasi Insya Allah terlindungi bukan 100% ya tidak. Tapi Insya Allah perlindunganya ada. Penularan peyakit ini melalui kontak bicara dengan orang difteri secara intens dan terus menerus” terangnya.

Sementara terkait dengan kasus penyakit difteri Widoyono mengungkapkan, kejadian tersebut pernah terjadi di Kota Semarang, yakni di Kelurahan Mijen tahun 2017 dan di Kelurahan Dadapsari pada tahun 2014

“kasus ini pernah ada di tahun 2017 di daerah Mijen namun tidak ada korban yang meninggal dan tahun 2014 di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara dengan korban meninggal kakak Adik,” ungkapnya.

Sementara terkait dengan langkah Pemkot Semarang melakukan vaksin/imunisasi kepada anak diusia 12 tahun direspon positif oleh warga Genuk Sari dan Bangetayu Wetan.

Salah satu warga Genuk Sari, Yani menuturkan telah membawa putranya yang berumur 9 tahun untuk di imunisasi difteri. Menurutnya difteri ini bahaya apabila tidak diobati secara dini, salah satunya dengan imunisai.

“Wabah difteri menurut saya bahaya juga, namun kalua dudah di imunisasi penyakit ini sudah ada perlindungannya” ungkapnya.

Sebelumnya juga Walikota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan, informasi yang viral melalui WA baru-baru ini yang menyatakan Genuk Sari merupakan zona merah difteri tersebut adalah tidak benar.

“Itu Hoax ! Memang ada kasus difteri di sana, tapi itu sudah ditangani oleh sedulur-sedulur dinas Kesehatan Kota Semarang. Sehingga tidak ada yang namanya zona merah apalagi sampai tidak boleh lewat di daerah itu,” tegasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *