Unik! Transformasi Seni Batik dari Gesek Godhong

SEMARANG (Asatu.id) – Syarifah Radhiyantini seorang usahawan muda yang baru-baru ini telah mengembangkan inovasi baru dalam dunia seni tekstil.
Jika batik biasanya dibuat dengan teknik cap atau tulis dengan menggunakan canting, namun berbeda dengan batik produksinya kali ini.
Dengan sentuhan tangannya, batik kini bertransormasi menggunakan teknik gesek. Tepatnya batik digesek dengan godhong atau daun kering maupun basah yang diusap tinta pewarna kain.
“Batik tulis gesek godhong merupakan inovasi baru dari dunia seni tekstil motif kain. Gesek godhong ialah kombinasi batik dan proses pembuatannya yang digesek,” kata perempuan yang akrab disapa Syarifah itu di pameran “Jelajah Produk Nusantara” di Atrium Java Mall.
Dia menambahkan, batik gesek godhong terinspirasi dari ecoprint dan pengembangan teknik cap. Ecoprint merupakan pembuatan motif kain dari bahan-bahan alam seperti dedaunan, bunga, dan ranting pohon.
Dalam batik gesek godhong, cara pembuatannya cukup mudah. Motif didapatkan dari bentuk daun dan serat-serat yang ada di permukaannya. Proses pembuatan dimulai dari pewarna disapukan ke salah satu permukaan daun yang berserat, setelah itu ditiris sebentar. Penirisan bertujuan untuk mengurangi cat yang meluber pada kain.
“Setelah ditiris, daun ditempelkan pada kain kemudian ditutup koran. Setelah itu, daun yang tertutup koran digesek dengan menggunakan gelas, botol, atau lainnya. Cukup beberapa saat setelah digesek dengan kuat, bentuk motif daun sudah terlihat di kain. Adapun daun kering ataupun basah bisa dijadikan sebagai cetakan, bergantung teksturnya,” paparnya.
Inovasi tersebut belum lama ditekuninya. Biasanya dia mengajak anak-anak disekitar rumah untuk berkarya saat libur sekolah. Anak-anak akan mendapatkan upah Rp 10 ribu – Rp 15 ribu per kain. Namun, menjelang usai libur sekolah produksi batik gesek godhong untuk sementara hanya dilakukan oleh Syarifa saja.
“Membuat batik gesek godhong ini cukup susah karena harus memperhatikan komposisi warna, letak daun, dan keseimbangan motif. Dengan mengajak anak-anak akan membuat mereka belajar kreatif,” ujarnya.
Syarifah bersama suami, Auf, merintis usaha batik dengan nama King Batik Tulis sejak empat tahun lalu. Bertempat di Jalan Genuk baru No 105 RT05 RW06, Tegalsari, batik gesek godhong masih terus dikembangkan. Saat ini, pihaknya juga tergabung dalam komunitas Java Creative Community (JCC).
“Kami berharap batik gesek godhong nantinya bisa menjadi ikon Kota Semarang. Selain itu, tidak hanya dijadikan motif batik untuk busana, tetapi juga produk lain, seperti tas, dan lainnya,” ungkapnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *