Dari 23 Penderita Difteri, Empat Pasien Meninggal di RSUP Kariadi

SEMARANG (Asatu.id) – Salah satu dokter spesialis yang menangani pasien penderita difteri di RSUP Kariadi Kota Semarang, dr Hapsari SpA (K) menjelaskan sejak bulan Desember 2017 lalu wabah penyakit difteri mulai menyerang beberapa daerah di Kota Semarang.

Hal ini dikatakan dr Hapsari saat ditemui beberapa awak media di RSUP Kariadi, Semarang, Jumat (20/7).

“Pada bulan Januari 2018 wabah penyakit difteri sudah sempat berhenti, namun pada bulan Juni pasien yang terjangkit penyakit ini mulai merebak lagi,” jelasnya.

Hapsari mengungkapkan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae ini bisa menular melalui udara menyerang saluran napas sebelah atas dengan gejala demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan bernapas bahkan pasien yang terjangkit penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

“Seperti pada bulan Juni lalu ada korban penyakit difteri asal Tembalang dengan inisial (A) meninggal dunia di RS Ketileng. Sebelumnya kondisi pasien sudah bull neck (leher sapi) dan mengalami gangguan jantung, sempat dirawat dua hari namun sudah tidak bisa tertolong lagi,” ungkapnya.

Hapsari menambahkan kasus yang terjadi pada bulan Juli ini ada satu keluarga sejumlah tujuh anak telah terjangkit difteri dikarenakan menolak imunisasi, sehingga seorang anak usia 12 tahun telah meninggal dunia asal Genuksari pada Kamis (19/7) kemarin.

“Pasien inisial (B) ini sempat mendapat perawatan di RS Kariadi. Keadaannya sangat kritis dengan denyut jantungnya harus dipacu dengan alat medis serta toksin atau racunnya sudah masuk ke ginjal, sehingga meninggal di HCU kemarin sore,” tuturnya.

Perlu diketahui penyakit difteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin (racun).

Toksin ini menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan saraf serta dapat berakibat kematian.

“Dari semenjak Desember 2017 lalu kasus pasien yang terjangkit penyakit difteri di RSUP Kariadi sudah terdapat 23 pasien, empat orang telah meninggal dunia yakni dua pasien di UGD dan dua pasien di HCU,” pungkasnya.

Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah melalui Dinkes dapat melakukan sosialisasi Outbreak Response Immunization (ORI) yakni imunisasi masal tidak hanya se-kelurahan saja namun hingga se-kecamatan di Kota Semarang. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *