Ayuk, Cari Kuliner Lontong Dekem di Pemalang

SEMARANG (Asatu.id) – Jika Anda berkunjung ke daerah Kabupaten Pemalang, jangan lupa mencari sekaligus menikmati beragam kulinernya. Salah satunya adalah Lontong Dekem.

Kedengarannya aneh. Tapi itulah salah satu ciri khas makanan dari Kabupaten Pemalang, selain Grombyang dan Tauto  yang telah lebih dulu terkenal. Kuliner ini sangat digemari banyak orang di Pemalang, bahkan di luar Pemalang.

Rasa spesial dari Lontong Dekem adalah antara rasa gulai dan rasa soto. Tentu saja tidak persis seperti rasa keduanya, karena Lontong Dekem punya ciri khas rasa sendiri. Bahkan ada yang bilang, rasa Lontong Dekem juga melebihi Grombyang dan Tauto.

Meski terlihat sederhana, namun cita rasa dari Lontong Dekem dijamin bisa menggoyang lidah. Dan yang pasti bikin penasaran. Rasa dan aromanya yang khas menjadikan kuliner satu ini serasa tidak ada duanya. Bahkan untuk mendapatinya mungkin hanya ada di Kota Pemalang saja.

Maka jika Anda sedang berada di kota kabupaten itu, cobalah menyusuri area alun-alun. Anda pasti akan mendapatkan salah satu warung Lontong Dekem, tepatnya di sebelah utara masjid. Pemilik warung itu adalah Siti Anisah. Ia mengaku sudah 50 tahun berjualan Lontong Dekem dan telah turun menurun.

Kata Lontong Dekem, menurut Siti Anisah, awalnya diambil dari kalimat makan sambil dekem atau duduk bersila tanpa disertai kursi dan meja. Tetapi itu dulu, karena sekarang ini untuk menikmati seporsi Lontong Dekem dengan harga Rp 12 ribu, bisa dengan duduk di kursi yang sudah disediakan pemilik warung. Lontong pun bisa diganti nasi, tergantung selera.

Menurut Siti Anisah, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Lontong Dekem, di antaranya mulai dari lontong atau nasi. Kemudian kuah gurih dari rempah-rempah ditambah suwiran ayam dan kerupuk yang dicampur dengan cacahan tulang muda.

Dari bahan-bahan tersebut, kemudian ditiriskan dalam satu mangkok dan siap disajikan. Lontong Dekem akan semakin enak jika dikmati bersama dengan sate ayam berbumbu sedap hingga aneka jerohan ayam yang digoreng dengan campuran serundeng.

Dalam sehari, Siti Anisah mengaku bisa menghabiskan antara 75 hingga 150 porsi untuk para pelanggannya. Penasaran? Coba saja. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *