Meriahnya Peringatan Nuzulul Quran dengan Kumandang Syair Puisi

SEMARANG (Asatu.id) – Peringatan Malam Nuzulul Quran di Balai Kota Semarang pada Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada peringatan tahun ini, Wali Kota Hendrar Prihadi mengundang beberapa penyair dan budayawan terkenal, antara lain Sitok Srengenge (Yogyakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Agoes Dhewa dan Prie GS, keduanya dari Semarang. Mereka tampil membacakan beberapa puisinya.

Wali Kota juga mengundang KH Zawawi Imron, penyair asal Madura yang tampil sekaligus memberi tausyiah di hadapan pengunjung.

Pembacaan puisi tidak hanya dilakukan para penyair. Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, juga tampil membacakan puisi “Sajadah Panjang” karya Taufik Ismail.

Ikut hadir dalam acara yang berlangsung di halaman Balai Kota, Kamis (31/5) malam itu, para kepala dinas, pejabat pemkot, juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, KH Ahmad Darodji.

Dalam tausyiahnya, penyair KH Zawawi Imron menerangkan, Nuzulul Quran mengandung arti turunnya Alquran. Maka jika umat Islam memeringati Malam Nuzulul Quran berarti memeringati malam turunnya kitan suci itu.

“Allah menurunkan Alquran saat bulan Ramadan. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa kita berpuasa untuk menyambut turunnya Alquran, sebagai firman Allah yang menjadi petunjuk umat manusia,” kata penyair nasional itu.

Menyinggung soal ibadan puasa, Zawawi menyampaikan bahwa hakekat puasa adalah menahan hawa nafsu, termasuk menahan haus, menahan lapar, berbuka, dan tarawih seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

“Ini sama artinya kita melakukan sunahnya Rasulullah, yang berarti kita berusaha memuhammadkan diri kita. Yang artinya berusaha menjadikan diri kita sebaik Rasulullah SAW,” tuturnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *