Masjid Ki Ageng Pandanaran, Mengingatkan Sosok Pendiri Semarang

SEMARANG (Asatu.id) – Nama Ki Ageng Pandanaran bagi orang Semarang sudah tidak asing lagi. Dialah Adipati Semarang pertama. Dan tanggal diangkatnya Ki geng Pandanaran sebagai Adipati, dijadikan sebagai peringatan hari jadi Kota Semarang.

Di kompleks makam Ki Ageng Pandanaran terdapat sebuah masjid, dengan nama Masjid Ki Ageng Pandanaran. Tidak terlalu besar memang, tetapi masjid itu selalu dipenuhi jamaah, terutama jika bulan Ramadan dan malam Jumat Kliwon.

Berada di dataran tinggi, masjid yang terletak di Jalan Mugas Dalam II/4, Kelurahan Mugassari, kurang lebih satu kilometer dari bundaran Tugu Muda itu, lokasinya terasa sejuk. Dengan pepohonan yang rindang di sekeliling kompleks, tempat ini sering digunakan untuk menyelenggarakan ritual-ritual keagamaan.

Menurut Ketua Takmir, H Agus Krisdiyono yang juga Sekretaris Yayasan Sosial Ki Ageng Pandanaran, ketika belum menjadi masjid seperti sekarang ini, tempat ibadah peninggalan Ki Ageng Pandanaran itu berwujud langgar atau mushala. Dindingnya hanya separo berupa bebatuan yang dipadu cairan semen.

Ki Ageng Pandanaran meninggal pada tahun 1496 dengan meninggalkan sebuah langgar atau mushala. Lama-kelamaan langgar atau mushala itu menjadi masjid karena mengalami renovasi beberapa kali sejak 1969. Terutama oleh Walikota Sutrisno Suharto dan teman-temannya dari kalangan pejabat dan pengusaha.

“Sebagai Adipati pertama Semarang Ki Ageng Pandanaran dianggap sebagai pelopor berdirinya Kota Semarang. Kota Semarang waktu itu merupakan salah satu pusat penyiaran agama Islam dan menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Dengan adanya penyiaran agama Islam menarik orang untuk juga berdatangan baik untuk bermukim maupun berdagang di Semarang sehingga wilayah ini menjadi ramai,” kata Agus menceritakan.

Meskipun Ki ageng Pandanaran hidup dalam masa yang sama dengan para Walisongo, papar Agus, namun dia tidak termasuk ke dalamnya. Ki Ageng Pandanaran mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam di wilayan yang semakin subur itu. Nah, konon di sela-sela kesuburan itu terdapat pohon asam yang jarang, atau dalam bahasa Jawa “asem arang” yang lantas wilayah itu diberi nama Semarang.

“Sunan Pandanaran dikenal sebagai penyebar agama Islam sekaligus peletak dasar pemerintahan Kota Semarang. Karena itu Pak Tris (Sutrisno Suharto) bertekat menjadikan masjid ini lebih baik lagi. Seingat saya beliau mengajak teman-teman pejabat (waktu itu), seperti Pangdam, Dandim dan pengusaha,” tutur Agus.

Konon pada masanya dulu, Sunan Pandanaran pernah tinggal dan membuka pesantren di Pulau Tirang Amper yang sekarang merupakan daerah Mugas, Semarang Selatan.

Beberapa waktu kemudian, pesantren tersebut dipindahkan ke daerah Pegisikan, dan Sunan Pandanaran membuka daerah baru yang kini dikenal sebagai Bubakan. Seiring waktu, Semarang berkembang pesat dan menjadi kadipaten di bawah Kesultanan Demak.

Setiap bulan Ramadan, masjid Ki Ageng Pandanaran banyak dikunjungi orang baik dari dalam kota maupun luar kota. Setiap hari jamaah memadati masjid sejak menjelang berbuka hingga usai shalat tarawih dan tadarusan bersama.

“Ada sebuah tradisi yang selalu ada pada setiap bulan Ramadan. Antara lain pengajian anak-anak usai sholat Ashar, kemudian tarawih, tadarusan serta jaburan atau disediakannya makanan untuk para jamaah. Ini merupakan cara untuk mempererat silaturahmi terutama bagi warga di sekitar kompleks masjid,” kata Agus Krisdiyono.

Tidak hanya di malam hari, tutur Agus, setiap usai sholat subuh juga dilanjutkan dengan dakwah dan tadarusan. Setiap malam, orang-orang di masjid ini tidak lelahnya mengangungkan asma Allah. Selain itu, di siang hari juga banyak warga sekitar atau pun orang-orang yang sengaja mampir untuk sholat yang diteruskan dengan mengaji.

24

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan