Gus Mus: Jangan Berlebihan, Jangan Pethenthengan

SEMARANG (Asatu.id) – Bukan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) jika tidak menyarankan konsep hidup sederhana tetapi penuh syukur. Kiai yang juga budayawan itu mengajak umat manusia untuk memanusiakan orang lain, dengan tidak lupa menerapkan konsep hidup sederhana, tidak berlebihan, tidak penthenthengan, sak madyo, dan tidak menganggap diri sebagai manusia paling benar.

“Kita hidup di akhir zaman. Tapi masih banyak manusia senang menganggap dirinya paling benar, menganggap dirinya kiai, ustad, atau predikat lain yang disegani orang. Sampai dirinya sendiri lupa sebagai manusia yang harus memanusiakan orang lain. Dia malah bangga, lupa sebagai makhluk yang setiap saat dituntut untuk selalu bersyukur,” kata Gus Mus.

Pernyataan bernada nasihat itu disampaikan Gus Mus dalam tausiahnya di hadapan ribuan jamaah “Tabligh Akbar serta Sinau Bareng” di Lapangan Simpang Lima Semarang, Minggu (13/5) malam. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Polda Jateng dan Polres se-eks Karesidenan Semarang dan Pati.

Mengusung tema “Pilkada Aman, Jawa Tengah Tenteram Pilkada Damai,” acara yang diramaikan penampilan kelompok musik Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib (Cak Nun) itu, menjadi ajang doa bersama dalam rangka menyambut Pilgub Jateng dan Pilkada Serentak 2018.

Hadir dalam kesempatan itu Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Ketua Satgas Nusantara Irjen Pol Gatot Edi Pramono, Wakapolda Jateng, Dandim Semarang, para Kapolres se-wilayah eks Karesidenan Semarang dan Pati, Ketua KPU dan Ketua Bawaslu Jateng, Ketua MUI, para ulama dan ribuan masyarakat dari berbagai unsur dan elemen.

Gus Mus yang tampil bareng Cak Nun, menyarankan masyarakat untuk memperbanyak bacaan istighfar dan shalawat. Seperti istilah Jawa, manusia hidup sekadar “mampir ngombe”, yang berarti tidak lama.

Gus Mus juga mengingatkan tiga hal yang mengharuskan kita bersyukur. Yang pertama, karena kita diciptakan sebagai manusia, punya nafsu, akal dan pikiran yang lebih sempurna dibanding mahkluk lain seperti malaikat, tumbuhan, atau binatan. Kita bisa berpikir, memelas sekaligus mengekspresikan.

“Yang kedua, kita jadi umat Nabi, pemimpin agung yang mengerti manusia dan bisa menjadi jembatan pertolongan. Dan yang ketiga, kita diciptakan jadi orang Indonesia, negara yang banyak memiliki kenikmatan. Cari orang yang kayak apa saja ada, suku dan bahasanya macam-macam, beragam buah dan tumbuhan juga ada. Seperti layaknya surga,” kata Gus Mus mengibaratkan, seraya mengajak mensyukuri ciptaan-Nya dan bersikap tidak berlebihan. Begitu pun dalam menyambut Pilkada 2018.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *