Konsumen Harus Cerdas Belanja Lewat Online

SEMARANG (Asatu.id) – Maraknya perdagangan digital atau (e-commerce) membuat pola baru transaksi jual beli di kalangan masyarakat. Untuk itu, masyarakat diminta agar menjadi pembeli yang cerdas.

Wakil Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Semarang, Gunarto mengatakan, dalam bertransaksi melalui e-commerce, konsumen harus bisa menjadi pembeli yang cerdas. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerugian konsumen.

“Konsumen harus semakin kritis. Karena tidak menutup kemungkinan pelaku usaha berbuat curang dalam dalam menjual produknya di e-commerce,” imbuhnya, Senin (23/4).

Gunarto membeberkan, transaksi secara daring saat ini memang terus berkembang. Namun, ia menjelaskan masih terdapat distorsi di dalam penjualan lewat online atau e-commerce itu sendiri.

“Konsumen tidak bisa melakukan pilihan yang tepat. Karena adanya distorsi dari informasi barang yang ditawarkan dengan barang aslinya. Beda kalau kkonsumen datang ke toko pastinya bisa melihat dan tahu aslinya produk tersebut. Tapi jika hanya lewat foto kan tidak bisa. Apalagi fto itu bisa dibuat,” ujarnya.

Dia menambahkan, kekecewaan konsumen dalam membeli barang lewat online bermula dari perbedaan informasi barang tersebut. “Meneyelesaikan sengketa melalui e-commerce itu jauh sulit dtangani. Sehingga ini tantangan Pemerintah agar konsumen itu bisa cerdas berbelanja di e-commerce. Karena risiko membeli secara online itu pastinya lebih tinggi,” bebernya.

Sementara itu, Pengamat IT Udinus Semarang menambahkan, LIerasi informasi di e-commerce itu penting. Menurutnya, memahami situs e-commerce yang secure atau aman harus dipahami dahulu oleh konsumen.

“Jadi ketika masuk broser harusnya kita bisa melihat. Jika kita memasukkan nama alamat domain dan di bagian depan alamat domain itu tertulis https. Itu menenunjukkan bahwa domain itu adalah aman,” terangnya.

Artinya, lanjutnya, di domain tersebut ttransaksi yang dilakukan dengan memasukkan data informasi data pribadi, bahkan terkait pembayaran itu dalam kondisi terbungkus atau aman. “Nah kalau semisal tidak meyelenggarakan transaksi yang secure itu data kita dalam kondisi terbuka. Jadi siapa pun orang bisa mendapatkan data kita. Ini suatu hal krusial, masyarakat harus memahami. Bukan malah buka situs e-commerce langsung berburu barang,” tukasnya. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *