Pondok Pesantren Potensial Kembangkan Ekonomi Syariah

SEMARANG (Asatu.id) Sedikitnya 4.400 pondok pesantren yang tersebar di Jawa Tengah, dapat menjadi potensi besar untuk pengembangan ekonomi syariah.

Hal itu disampaikan Kepala Bank Indonesia‎ (BI) Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo, di sela-sela peresmian Pusat Informasi, Kajian dan Pengembangan Ekonomi Syariah (PIKES), di Gedung BI, Jalan Imam Bardjo Semarang, Kamis (22/3‎).

Ponco mengatakan, ‎pondok pesantren merupakan lembaga pendidkan Islam tertua yang ada di Indonesia. Sehingga, lembaga keuangan syariah pun bisa menyasar ke dalam ‎pondok pesantren untuk mendukung kegiatan ekonomi melalui kajian dan riset bisnis model ekonomi syariah.

‎”Kita perlu strategi khusus untuk mengembangkan lembaga keuangan syariah, bisa melalui pondok pesantren atau panti asuhan,” paparnya.

Dia menjelaskan, peran Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) sangat besar untuk memajukan ekonomi keuangan syariah di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, empat pondok pesantren juga menjadi percontohan untuk pengembangan ekonomi syariah.

‎”Masih banyak masyarakat yang memerlukan edukasi tentang sistem ekonomi keuangan syariah, misalnya melalui UKM, petani, masyarakat umum, pesantren dan panti asuhan,” jelas dia.

Saat ini, marketshare‎ keuangan syariah di Jawa Tengah mencapai 7 persen atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang hanya sebesar 5 persen.

“Keuangan syariah di Jawa Tengah mengalami tren pertumbuhan yang positif, bahkan jika dibandingkan rata-rata secara nasional angkanya jauh lebih tinggi,” pungkas Hamid. (is)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *