Upah Nelayan Naik, Pendapatan Sektor Perikanan Meningkat

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, I Gusti Made Agung mengatakan Pemerintah Kota Semarang akan berupaya meningkatkan pendapatan nelayan dari sektor perikanan tangkap agar setidaknya bisa melebihi upah minimum kota setempat.

“Diakui atau tidak kecenderungan anak-anak nelayan sekarang ini lebih senang bekerja di pabrik daripada jadi nelayan,” ungkapnya, Minggu (18/3).

Made mengungkapkan, kecenderungan berkurangnya minat menjadi nelayan itu, salah satunya dipengaruhi rendahnya penghasilan nelayan, belum termasuk risiko besar yang dihadapi para nelayan ketika melaut.

“Besaran UMK Kota Semarang 2018 mencapai Rp2 ,3 juta atau naik dari 2017 sebesar Rp 2,125 juta/bulan, sehingga menjadi tantangan bagaimana penghasilan nelayan bisa melebihinya,” paparnya.

Made menambahkan, kalau penghasilan nelayan masih di bawah upah minimum regional (UMR) maupun UMK, banyak anak-anak nelayan yang akan masuk bekerja di pabrik-pabrik. Tidak ada regenerasi nelayan.

“Jumlah nelayan di Kota Semarang sekarang ini mencapai kurang lebih 1.100 orang yang tersebar dari kawasan pesisir di Mangkang, Mangunharjo, Tugu, hingga Tambaklorok dan Trimulyo,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, program ini paling tidak dapat mempertahankan jumlah nelayan yang ada. Selain itu juga akan meningkatkan sarana dan prasarananya.

“Kami sudah mengajukan bantuan kapal kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang salah satu persyaratannya harus memiliki koperasi dan sedang dalam proses pembentukan,” katanya. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *