Pengaturan PKL Taman KB Harus Dilakukan Sesuai Perda

SEMARANG (Asatu.id) – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perdagangan harus mencarikan solusi yang pas bagi 48 pedagang kaki lima (PKL) Taman KB di kawasan Jalan Menteri Supeno. Mereka harus pindah karena Taman KB akan dibangun dan dikembangkan sebagai Taman Indonesia Kaya.

Sebagai tampat alternatif baru bagi para PKL, Dinas Perdagangan akan menempatkan pedagang di sepanjang Jalan Pandanaran II secara permanen. Namun rencana itu mendapat tanggapan dari beberapa pihak yang khawatir penempatan PKL di sana akan menggangu pengguna jalan. Untuk itu harus dipertimbangkan dari segala aspek. Jangan sampai ada pihak yang dirugikan.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono menjelaskan, penempatan PKL di seluruh wilayah Kota Semarang sudah diatur dengan Perda tentang Pengelolaan PKL. Dinas Perdagangan harus mengacu pada Perda yang ada, tidak boleh seenaknya sendiri.

“Untuk mengatur PKL harus menggunakan Perda tentang Pengelolaan PKL. Di dalamnya sudah mengatur aktifitas mereka, termasuk soal zonasi lokasi. Soal relokasi perlu memperhatikan regulasi. Di sisi lain, relokasi PKL harus nguwongke mereka, yaitu tentang kenyamanan tempat dan fasilitas pendukung,” kata Suharsono, Jumat (16/3).

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, pihaknya berencana untuk memindah PKL Taman KB dengan membuat shelter di sepanjang Jalan Pandanaran II secara permanen.

Shelter baru nanti akan dibangun oleh Djarum Foundation secara keseluruhan. Semua akan permanen di Pandanaran II dan akan dimintakan izin ke walikota untuk kekhususan, karena bagaimanapun juga pedagang sudah legowo untuk pindah.

Rencana itu juga mendapat tanggapan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi. Menurut Mas Pri, panggilan akrabnya, rencana pemindahan shalter PKL Taman KB secara permanen di bahu jalan Pandanaran II merupakan solusi yang ngawur. Hal ini mengingat rencana tersebut justru akan berdampak buruk baik bagi pengguna jalan maupun para pejalan kaki.

“Untuk mencarikan solusi, tidak terus serta merta Shalter PKL dipindah di jalan pandanaran dua, itu justru akan menambah kesemrawutan, terus memnghabiskan bahu jalan sampai trotoar akhirnya yang dirugian para pejalan kaki. Tentunya ini bukan solusi,” tandas Supriyadi. (udins)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *