Calon PKL MAJT, Lain Kelompok Beda Keinginan

SEMARANG (Asatu.id) – Adanya beberapa kelompok pedagang kaki lima (PKL) pindahan dari Pasar Yaik Baru dan Pasar Johar, menjadi salah satu kendala tertundanya penempatan pedagang di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengakui, minimal ada tiga kelompok pedagang yang bakal menempati los PKL di MAJT, yaitu kelompok Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ), Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP), dan kelompok independen yang tidak ikut ke dalam dua kelompok itu. Kelompok independen sendiri masih dibagi beberapa nama, ada kelompok Sabar Menanti, kelompok Unyil dan lain-lain.

Tiga kelompok ini menolak Dinas Perdagangan ikut campur dalam menentukan tempat jualan di kompleks MAJT. Sistem zonasi (penempatan dan posisi) yang ditawarkan Dinas Perdagangan ditolak. Mereka meminta penentuan zonasi ditentukan sendiri oleh pedagang.

Di sisi lain, masing-masing kelompok itu punya keinginan berbeda dengan kelompok lainnya dalam hal menempati los yang sudah dibangun Dinas Perdagangan di kompleks MAJT. Setiap kelompok ingin ditempatkan dalam los yang sama, apapun jenis barang dagangannya. Sementara Dinas Perdagangan menginginkan sistem zonasi, yakni penempatan berdasarkan jenis barang dagangannya. Penempatan sistem dirasa lebih adil disamping memudahkan calon pembeli.

“Keinginan mereka kami hargai. Tetapi kami harus mendapat kepastian secepatnya, karena mereka harus segera pindah dari Pasar Yaik Baru dan Pasar Johar. Awal April Pasar Yaik Baru harus sudah bersih dari pedagang dan proses pembangunan akan segera dimulai,” kata Fajar Purwoto yang menemui ratusan pedagang di kompleks PKL MAJT, Kamis (15/3).

Dari tiga kelompok pedagang itu, kelompok PPJ yang diketuai H Mudatsir paling banyak anggotanya, meski semuanya tidak satu suara. Sebab beberapa pedagang kelompok ini dalam pembagian los PKL sebenarnya juga setuju dengan sistem zonasi yang disarankan dinas perdagangan. Sementara kelompok PPJP yang diketuai Rahman jumlah anggotanya hanya sekitar 50 sampai 70 pedagang. Demikian juga dengan kelompok independen yang anggotanya hanya puluhan saja. Bahkan beberapa pedagang dari kelompok ini sudah mulai membangun kios sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *