Endang Bersekukuh Sanksi Pengeluaran AN dan AF Sudah Tepat

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi mengumpulkan para orangtua siswa yang mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS.

Dalam kasus ini, AN dan AF diputuskan sepihak untuk dikeluarkan dari sekolah karena melakukan kekerasan saat LDK berlangsung.

Endang menyatakan tetap bersikukuh jika hukuman drop out yang diberikan merupakan tindakan tepat. Pasalnya, ia mengklaim keduanya telah melanggar tata tertib sekolah sehingga diganjar sanksi poin maksimal sampai 110.

Ia menjelaskan AN diganjar sanksi maksimal karena dianggap telah merugikan peserta didik. Endang juga menjelaskan pada apa yang dilakukan AN sebagai perbuatan yang menyalahgunakan kepentingan sekolah.

“Dia kencing di depan tempat sampah. Merusak fasilitas sekolah. Mengancam dan intimidasi peserta didik atau individu. Maka kami memberikan poin pelanggaran maksimal kepadanya,” ujarnya (2/3).

Sedangkan, hukuman serupa juga diberikan pada AF. Menurutnya AF juga melanggar tata tertib karena telah melakukan pelanggaran kedisiplinan, menyakiti peserta didik, mengancam atau intimidasi yang menimbulkan permusuhan di dalam maupun di luar sekolah.

“Maka atas dasar tersebut, kedua siswa itu dikeluarkan dari sekolah. Tapi hukuman yang kami berikan masih manusiawi kok. AN kan kemudian dipindahkan ke SMAN 6. Untuk AP dipindah ke SMAN 2,” tuturnya.

Walau begitu, di tengah paparan bersama para orangtua siswa, Endang memastikan sanksi DO bagi kedua siswa itu tidak ada kaitannya dengan kematian Bintang. Bintang merupakan siswa SMAN 1 Semarang yang meninggal dunia usai berenang di GOR Jatidiri pada awal tahun ini.

“Tindakan mereka tidak terkait dengan meninggalnya almarhum Bintang. Karena kami sudah melakukan sidak ke handphone para siswa. Apa yang kami lakukan ini masih dalam batas-batas pendidikan karena kasusnya tidak kami masukan ke ranah hukum,”.

“LDK itu kegiatan ilegal. LDK kan yang menamai oleh pengurus sendiri. Kegiatannya juga dilakukan diluar jam sekolah,” jelasnya.

Sementara itu Sri Wiyanti, seorang guru SMAN 1 berdalih dengan memindahkan kedua siswa itu ke sekolah lain, maka pihaknya masih memikirkan nasib mereka.

“Jangan dibilang kami memutus pendidikan mereka. Satu sisi kami harus menjaga keselamatan anak-anak, namun disisi lain harus menegakkan aturan. Begitu beratnya upaya kami untuk mengembalikan marwah dunia pendidikan,” pungkasnya.  (is)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *