Kampoeng Djowo Sekatul, Upaya Nguri-Uri Budaya Jawa

SEMARANG (asatu.id) – Keberadaan Kampoeng Djowo Sekatul yang terletak di Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, merupakan salah satu upaya untuk nguri-uri atau melestarikan kebudayaan Jawa yang adiluhung.

Menempati lahan sekitar 12 hektare, Kampoeng Djowo Sekatul diciptakan sangat erat dengan filosofi Jawa, menjadi tempat yang tepat untuk olah roso dan nglaras roso, sarana penyatuan diri untuk lebih dekat dengan alam yang memberikan simbol membuka nurani dan menemukan jati diri menuju jalan selamat.

Humas Kampoeng Djowo Sekatul, Elly Rusmilawati mengungkapkan Kampoeng Djowo ini dibangun dengan maksud untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Salah satunya dengan menyuguhkan bangunan-bangunan joglo klasik yang unik dan masih terpelihara keasliannya. Selain itu bangunan-bangunan joglo ini juga khusus didatangkan dari sejumlah daerah di Jawa Tengah.

“Di sini ada Joglo Saridin, Joglo Mbagan, Joglo Joyo Kusumo, Joglo Bono Keling dan beberapa Joglo Jawa lain. Jumlah joglo utama ada enam, dan ada juga sekitar 25 joglo kecil. Semua joglo punya cerita dan nilai sejarahnya masing-masing,’ungkapnya.

Elly menceritakan ada yang unik dari cerita masing-masing Joglo utama tersebut. Salah satunya Joglo Saridin. Dia menuturkan bahwa dulunya Joglo Saridin merupakan joglo asli yang dimiliki oleh tokoh ulama asal Kabupaten Pati bernama Syekh Saridin. Bangunannya hingga kini masih terjaga keasliannya.

“Joglo Saridin semula hendak dijual oleh ahli warisnya. Namun, suatu keanehan terjadi ketika joglo itu akan dibeli seorang investor dari Jepang. Ketika akan dipindahkan ke Jepang, bangunanya tanpa alasan mendadak jadi sulit diangkat. Karena itulah, akhirnya ahli warisnya memilih menjual kepada kami, atas seizin Allah SWT Joglo Saridin ternyata bisa dibawa sampai kemari,”tuturnya.

Tak sekadar menawarkan keunikan bangunan klasik dan semua yang berbau Jawa, lanjut Elly, Kampoeng Djowo juga menyuguhkan aneka kuliner khas Jawa yang mengundang selera. Ada sayur lompong, aneka pepes, ikan bakar, nasi goreng jowo, salad jowo, gudangan (urapan), dan lainnya. Tersedia beragam paket pesanan untuk kelompok besar maupun kecil dengan harga yang terjangkau.

“Ada satu minuman hangat penyapa kedatangan para pengunjung. Penyaji di Kampoeng Djowo menyebutnya ‘jahe ceng’. Minuman penghangat badan berbahan dasar jahe, kapulogo, dan rempah-rempah ini memiliki rasa yang khas. Pas sebagai penghangat untuk melawan udara dingin lereng pegunungan,” katanya.

Di galeri kesenian Kampoeng Djowo juga bisa dijumpai bermacam kerajinan yang khas. Ada mainan anak tradisional yang hampir punah, hiasan pajang, batik, hingga aksesoris kecantikan bernuansa Jawa. Termasuk pula aneka macam buah tangan berupa makanan khas Sekatul, seperti rambak sapi, keripik kacang hijau (tumpi), serta keripik nangka.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *