Pengamat Politik : Strategi Gerilya Biasa Dilakukan untuk Lawan Petahana

SEMARANG (Asatu.id) – Pengamat Politik Univeristas Diponegoro (Undip) Semarang Nur Hidayat Sardini mengungkapkan strategi gerilya yang dilakukan oleh Sudirman Said dan Ida Fauziah memang wajar dilakukan untuk mengimbangi voltase Petahana Ganjar Pranowo.

Namun, pihaknya menyatakan strategi gerilya atau kanvasing yang dilakukan pasangan Sudirman-Ida tidak boleh melanggar larangan-larangan kampanye.

“Dalam teori, seorang calon petahana mempunyai modal 30 persen untuk menang dan punya kesempatan kampanye sepanjang lima tahun dilakukan. Wajar saja SS gerilya lebih untuk setidak-tidaknya menyamai 30 persen modal yang dimiliki petahana. Saya kira dimana-mana seperti itu,” ujarnya, Senin (5/2).

Nur Hidayat menambahkan, Sudirman Said sebagai penantang harus mengejar beberapa poin penting untuk menyamai atau bahkan melampaui voltase Petahana Ganjar Pranowo. Yakni harus mengejar tingkat popularitas, tingkat kesukaan atau acceptansi, kemudian yang ketiga tingkat elektabilitas.

“Dia harus banyak turun ke lapangan, istilahnya Pak Jokowi Blusukan itu. Dia harus banyak menggandeng simpul-simpul pemilih. Waktu buat dia tiga bulan efektif. Tetapi harus diimbangi dengan langkah-langkah yang lebih kuat juga,” ucapnya.

Pihaknya mengaku masih sepakat dengan langkah yang dilakukan oleh Sudirman Said untuk melakukan kampanye negatif, yaitu untuk mengkritik kinerja dan hasil kerja dari seorang calon incumben Ganjar Pranowo. Melakukan counter discuss kepada apa yang dilakukan petahana.

“Dalam istilah negative campaign saya masih memperkenankan. Dengan melakukan keperbandingan, melakukan kritik kepada petahana, tapi tetap harus mematuhi aturan kampanye, tidak melanggar. Jika tidak seperti itu, Sudirman Said akan dikalahkan oleh Ganjar. Itu teori saja yang terbukti dimana-mana, di Indonesia dan didunia,” katanya.

Dia menambahkan, bahwa jika ada petahana yang kalah banyak disebabkan karena merasa tak akan dikalahkan dan berada di zona aman.

“Tetapi ada juga ada petahana yang kalah, itu karena apa ? Dia merasa nyaman, merasa terlena dan mengaggap bahwa modal yang dipegangnya akan settle, dan in iakan menguntungkan buat dia,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *