Revitalisasi TBRS, Upaya Memberi Ruang Publik Representatif Kegiatan Seni Budaya

SEMARANG (Asatu.id) – Taman Budaya Raden Saleh atau yang biasa dikenal warga Semarang sebagai TBRS merupakan salah satu ruang publik untuk melestarikan dan mempresentasikan seni dan budaya, khususnya di Kota Semarang. Nama Taman Budaya Raden Saleh berasal dari seorang pelukis terkenal asal Semarang, yaitu Raden Saleh Sjarief Boestaman (1807-1880).

Tempat ini semula merupakan Taman Hiburan Rakyat sebagai Kebun Binatang, terletak di Jalan Sriwijaya No. 29 Semarang, setelah dipindahkan taman ini beralih menjadi pusat kesenian dan kebudayaan Taman Budaya Raden Saleh dan sebagian berubah menjadi Taman Rekreasi Keluarga Wonderia.

Terkait revitalisasi Gedung TBRS, dalam forum kreatif Peka Kota ke 34 yang bertajuk “Bedah Rencana Induk Taman Budaya Raden Saleh” yang digelar Senin (22/1). Seperti sudah dijelaskan mengenai rencana induk (Master Plan) dan Detail Engineering Design (DED) kawasan yang diterima dari Pemerintah Kota Semarang. Disampaikan bahwa TBRS akan dioptimalisasi, baik secara fisik serta mendapat fasilitas tambahan seperti taman bunga, tree top, playground, creative hub hingga hotel. Bisa diunduh melalui http://bit.ly/2EGxMmC

Kabid Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kota Semarang, Budi Prakoso dalam forum tersebut mengatakan tujuan dilakukannya upaya revitalisasi ini untuk memberikan ruang publik yang representatif bagi kegiatan seni dan budaya. Dalam program ini juga disusun perencaaan bahwa Gedung TBRS sebagai tempat pusat kota budayawan guna mengaktualisasi nilai keseniannya.

“Harapannya tentu bisa menjadi wadah interaksi berkesenian dan berkegiatan budaya masyarakat Kota Semarang dan menjadi ikon Kota Semarang,” jelasnya.

Pengembangan Gedung TBRS, lanjut dia, tentunya membutukan masukan dan usulan dari berbagai pihak dengan harapan rencana dapat berjalan dengan maksimal. Semarang dapat berjiwa, walaupun metropolitan tetapi memiliki nilai yang humanis. Terkait arah kebijakan juga sudah dipikirkan.

“Kami coba menyediakan ruang ini supaya dapat dimanfaatkan oleh komunitas, hanya saja beberapa ada yang belum optimal. Konteksnya dalam rencana pembangunan ini kami masih terbuka, masalah lelang akan dilakukan setelah kesiapan dokumen perencanaan dengan mempertimbangkan aspirasi dan masukan stakeholder. Mari kita kawal birokrat ini dengan komunikasi dengan semua pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Komunitas Hysteria, Adin yang juga selaku penanggap dalam forum tersebut menyambut baik upaya revitalisasi Gedung TBRS, namun ke depan keterlibatan stakeholder harus terjamin, mengingat TBRS sudah menjadi kepentingan banyak orang.

“Lebih baik ramai di depan daripada ramai di belakang. Belum lagi persoalan inisiatif teman-teman komunitas yang ingin mengisi program-program sering mengeluhkan soal akses. Harapannya teman-teman dapat memanfaatkan ruang publik ini tanpa terkendala akses,” pungkasnya.

Turut hadir sebagai pembicara dari Bappeda Kota Semarang, Budi Prakoso, Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Semarang, Siti Andini, Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Transiska, dan Konsultan Proyek TBRS, Ardianto. Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Hysteria bekerja sama dengan Dewan Kesenian Semarang. Selain itu dihadiri pula peserta undangan diskusi dari berbagai lintas komunitas pegiat seni dan budaya di Semarang. (is)

 

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *