Generasi Milenial Diminta Waspadai Pil PCC

SEMARANG (asatu.id) – Maraknya peredaran pil Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC) di Kalimantan patut diwaspadai oleh seluruh warga Semarang. Untuk itu, pemerintah bersama masyarakat Semarang diminta melakukan pencegahan dan pemberantasan peredaran pil PCC dan narkoba jenis lainnya.

Permintaan dan ajakan itu terlontar pada diskusi Prime Topic yang digelar MNC Trijaya FM Semarang bertemakan Menyelamatkan Generasi Milenial, di Hotel Grasia Semarang, Senin (18/12).

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, kasus penggerebekan pil PCC berhasil dibongkar Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jalan Halmahera 27, Semarang. Kasus ini diharapkan menjadi rambu-rambu aparat terkait Kota Semarang untuk mencegah peredaran obat terlarang di Ibukota Provinsi Jateng.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan perlu adanya pengawasan terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran pil PCC, juga narkoba jenis lainnya, terutama kalangan pelajar. Pengawasan ekstra harus dilakukan agar pelajar tidak mudah ikut-ikutan mengonsumsi pil PCC tersebut.

“Pil PCC itu pada umumnya menyasar kalangan pelajar, terutama pelajar yang hobinya nongkrong, lalu mudah tersulut emosinya hingga terjadi tawuran. Semua ini terjadi karena pengaruh obat-obatan terlarang,” ungkapnya kepada Asatu.id

Sementara itu, Kepala Badan Kesbanglinmas Pemkot Semarang, Isdiyanto menambahkan, perlu adanya inovasi baru dalam memberikan dukungan kepada Badan Narkotika Provinsi (BNP). Dukungan itu misalnya dengan  sosialisasi hingga tes urine di kalangan pelajar.

“Peredaran narkoba, termasuk pil PCC bisa jadi dilatarbelakangi persoalan ekonomi. Namun ada upaya dari pihak luar untuk menghancurkan bangsa,” ujar Isdiyanto.

Karena itu, lanjut dia, para orang tua harus lebih waspada, terutama terkait uang saku anaknya yang bisa saja digunakan untuk membeli pil PCC.

Sementara Sosiolog dari Universitas Diponegoro (Undip), Ani Purwanti, mengatakan apabila hasil investigasi mengungkapkan pil PCC tidak hanya dijual di Kalimantan, tetapi bisa juga dijual di wilayah Jawa Tengah.

”Apabila harganya murah dan adanya pergaulan yang semakin tidak benar, tentu akan menarik minat pelajar untuk mengonsumsinya. Maka yang terjadi kasus ini jika dibiarkan, seperti fenomena gunung es atau menjadi bom waktu,” ungkapnya. (Riska Fara)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *