Kominfo-MUI Ajak Masyarakat Arif Menggunakan Media Sosial

SEMARANG (asatu.id) – Warga masyarakat Indonesia saat ini diajak untuk lebih arif dalam menggunakan media sosial. Kemajuan teknologi dan besarnya jumlah pengguna yang kian hari kian meningkat mendorong penggunaannya lebih bijaksana dalam aktivitas sehari-hari.

Hal itu pula yang mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia (RI) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Kamis (2/11) siang menggelar Forum Dialog Literasi Medsos Berbasis Islam Wastahiyah di Hotel Ciputra.

Dialog yang diikuti sebanyak kurang lebih 91 peserta dari perwakilan mahasiswa dan organisasi di Jawa Tengah itu, mengajak audiensi untuk bijak dan arif memanfaatkan media digital di tengah maraknya pemberitaan atau isu yang menyimpang.

Menurut informasi yang disampaikan Staff Ahli Kominfo RI Donny Budi Utoyo, tercatat kini ada sekitar 132 juta pengguna Internet di Indonesia. Dimana 40 persennya pengguna media sosial dan menariknya pengguna kartu SIM ada sebanyak 371,4 juta, ini berarti setiap satu orang memiliki HP lebih dari satu.

Donny mengatakan data tersebut merupakan wujud tumbuh pesatnya keterlibatan masyarakat Indonesia menggunakan internet, terlebih konvergensi media kini yang mampu mempengaruhi seseorang bertindak bijak atau bahkan menyimpang dalam memanfaatkan media digital.

“Standar bahasa di internet tidak ada body language dan voice, yang ada hanya words, dengan tulisan segala sesuatu dapat berpengaruh dalam komunikasi di dunia internet. oleh karena itu, ketidakbijakan memanfaatkan media digital dalam bermedia sosial akan berdampak bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan beberapa hal negatif yang bisa terjadi akibat bermedia sosial dengan tidak bijak, seperti pornografi anak, teroris, cyberbully, ujaran kebencian, main hakim sendiri dan hoax.

“Faktanya kini, kita ini penikmat hoax namun kita tidak sadar. Kebanyakan orang-orang Indonesia menganggap hoax itu adalah suatu kebenaran, hal itu karena masyarakat semakin diterpa berita oleh si penyebar hoax,” katanya.

Hal ini, Donny menjelaskan, salah satu penyebabnya juga karena masyarakat tidak punya kesempatan untuk bertanya, maka dari itu sebelum memulai share sebuah berita ada baiknya melakukan konfirmasi terlebih dulu, contohnya kalo di MUI bisa minta pendapat ke alim ulama atau ke sumber terpercaya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Pusat Bidang Fatwa, M Nurul Irfan mengatakan MUI berusaha memberikan pedoman beruamalah di media sosial.

“Di setiap dialog kami berusaha mensosialisikan Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 tentang pedoman bermuamalah melalui media sosial yang bisa di cari di internet, sekaligus upaya memberikan pandangan ke masyarakat untuk arif bermedia sosial,” ujarnya.

Sementara K H. Ahmad Darodji Ketua Umum MUI Jateng menambahkan yang terpenting dalam menangkal konten negatif seperti Hoax ditak hanya pemerintah namun ketahan diri juga harus dimiliki.

“Yang utama adalah ketahan pribadi masing – masing, bijak bermedia itu  dikatakan cerdas jika arif memanfaatkannya,” pungkasnya. (isan)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *