Awas, 3 Sungai (Masih) Tebar Ancaman

SEMARANG (asatu.id) – Musim penghujan menjadi momok bagi  masyarakat Kota Semarang, terutama yang bermukim di kota bawah. Apabila intensitas hujan sangat tinggi, dipastikan kawasan yang menjadi langganan banjir selalu digenangi air. Rendaman air banjir itu, baik di rumah-rumah warga, maupun jalan-jalan  protokol, bahkan bisa berhari-hari, sehingga mampu menghentikan aktivitas dan roda perekonomian masyarakat.

Kini, guyuran hujan kembali menggoyang Kota Semarang. Pekan lalu saja, ibu kota Provinsi Jateng sempat diguyur  hujan selama empat hari berturut-turut, dan sehari pada akhir pekan. Akibat siraman air hujan tersebut, sejumlah wilayah yang berpotensi banjir, seperti Jalan Kaligawe Semarang dan Sawah Besar, terendam air banjir.

Di sisi lain, banjir yang menimpa Kota Semarang duga dipicu oleh kondisi alam sekitar, di mana letak geografis sebagian wilayah berada di dataran rendah. Faktor inilah yang menimbulkan rob , di mana muka pasang air laut lebih tinggi dari daratan.

Kondisi banjir semakin parah,  jika guyuran hujan bercampur dengan rob. Air hujan yang meluncur dari hulu sungai tidak bisa sampai hilir (laut), akibat terhalang rob. Jika fenomena ini terjadi, dipastikan Kota Semarang bagian bawah akan tergenang air, dan kemacetan lalu-lintas pun terjadi di mana-mana.

Salah seorang warga Sawah Besar, Semarang, Sugiyono membenarkan sejumlah kawasan di daerah Kaligawe hingga saat ini masih teredam banjir. Meski hujan sempat berhenti selama dua hari, namun genangan air banjir masih merendam sejumlah kawasan.

“Rendaman banjir saat saat ini masih tinggi. Sejumlah pengendara, baik mobil maupun motor, harus berhati-hati bila hendak melintasi kawasan ini,” kata Sugiyono.

Pernyataan senada juga dilontarkan Dahyono, warga Kebon Agung, Kebonbatur, Mranggen, Demak. Dia terpaksa harus berjuang ekstra keras untuk mengantisipasi rendaman banjir di kawasan Kaligawe, lantaran pekerjaannya sebagai petugas keamanan salah satu perusahan swasta di Semarang, menuntut dirinya untuk tepat waktu saat menjalani tugasnya.

“Ya bagaimana lagi, banjir ya tetap diterjang. Sebagai karyawan kecil, saya kan dituntut untuk selalu tepat waktu saat bekerja,” paparnya.

Sementara  banjir  di Sungai Sringin, Kelurahan Trimulyo ,Kecamatan Genuk dan Sungai Tenggang, Tambakrejo, Gayamsari, diakibatkan oleh genangan pasang surut air laut (rob) serta limpasan air hujan.

Daerah hilir Sungai Sringin dan Sungai Tenggang mempunyai elevasi lahan lebih rendah dari muka air pasang. Hal ini mengakibatkan air sungai tidak mampu mengalir secara gravitasi. Penanganan banjir yang tepat untuk dua kawasan ini adalah menggunakan sistem polder (non-gravitasi), yang kini sudah diterapkan pemkot.

Jika Sungai Sringin diterjang rob,  kawasan Industri Terboyo dan kawasan permukiman Dukuh Ngilir, Kelurahan Trimulyo ,Kecamatan Genuk akan digenangi air laut. Demikian pula, bila Sungai Tenggang menerima limpahan pasang air laut, semua sungai dan saluran di wilayah timur Semarang, Sawahbesar, Kaligawe, Tlogosari, Muktiharjo serta lainnya,  dibanjiri rob.

Baik Sugiono maupun Dahyono meminta Pemkot Semarang selaku pemanggu kebijakan daerah agar secepat mengurai problem-problem penyebab banjir, sehingga kawasan padat penduduk dan padat lalu-lintas tidak terus digenangi air luapan banjir.

Permintaan Sugiyono maupun Dahyono ini menjadi cerminan masyarakat Semarang akan pentingnya langkah-langkah antisipasi pemkot untuk menghilangkan momok banjir yang selalu bergelayut di pikiran mereka saat hujan deras menghuyur wilayahnya.

Normalisasi 3 Sungai

Masalah banjir di Kota Semarang sebenarnya dipengaruhi banyak faktor, antara lain berkurang daerah resapan air, dranase tidak lancar, budaya membuang sampah sembarangan, sedimentasi sungai dan rendahnya permukaan tanah dibandingkan tingginya air pasang laut.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan Pemkot masih mengevaluasi penyebab banjir di sejumlah titik. “Kita temukan beberapa evaluasi. Pertama saluran tak berfungsi baik, sehingga air tidak mengalir ke bawah. Kedua adalah masalah sampah. Kemarin Jalan Pahlawan sempat tergenang,  kita turunkan tim ternyata sampah. Lalu  Jalan Majapahit tergenang, ternyata penyebabnya juga sampah,” ujar Hendi, baru-baru ini.

Untuk mengurai penyebab banjir di Kota Semarang sendiri, pemerintah pusat telah menggelontorkan ratusan miliar rupiah untuk menormalisasi tiga sungai besar yang menjadi penyebab banjir. Tiga sungai besar itu, masing-masing Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Sungai Tenggang dan Sungai Sringin.

Meski proyek besar itu didanai pemerintah pusat, namun Pemerintah Kota Semarang tetap mengawal tiga proyek normalisasi sungai di wilayahnya. Apalagi, proyek normalisasi sungai itu sangat dibutuhkan  pemkot, terutama untuk percepatan penanggulangan banjir di Kota ATLAS.

“Kami bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, juga pemerintah pusat,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang Iswar Aminuddin.

Untuk percepatan normalisasi sungat tersebut , pemerintah pusat telah menunjuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sebagai pelaksana. Kewenangan Pemkot dalam proyek itu hanya mengamankan lahan yang terkena pembangunan.

Kendati normaliasi telah dimulai tahun lalu, namun proyek yang yang didanai dari APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) hingga kini belum tuntas. Normalisasi Sungai BKT, misalnya, sejumlah tepi masih belum difondasi. Untuk menahan tinggi debit air sungai, pelaksana proyek hanya menempatkan bronjong, kantongi-kantong plastik pasir dan batu.

Kondisi tentu saja masih menjadi kekhawatiran warga yang bermukim di dekat bantaran sungai. Apalagi memasuki musim penghujan di awal bulan Oktober ini, debit air di sungai Banjir Kanal Timur cukup tinggi.

“Kami khawatir kiriman air hujan dari atas tidak bisa tertampung Sungai Banjir Kanal Timur. Kemarin saja, debit airnya berada di ambang batas rawan. Jika nanti guyuran hujan semakin lebat, warga takut akan menimbulkan banjir besar,” kata Sugiyono.

Intensitas hujan saat ini memang belum tinggi, sehingga masih ada beberapa hal yang bisa dikebut pemangku kebijakan untuk mengantisipasi banjir  pada saat  tiga sungai besar itu meluap.

Selain mempercepat pelaksanaan proyek, pemkot perlu mempersiapkan antisipasi bencana banjir dan longsor secara dini, seperti membuka posko bencana 24jam di sejumlah titik bencana, penempatkan brojong di titik-titik bantaran sungai yang rawan longsor, serta menyiapkan petugas medis beserta perangkatnya.

Tiga sungai besar hingga saat ini memang belum menunjukkan ancaman serius. Namun, peningkatan debit air di sungai-sungai itu menjadi sinyal, bahwa mereka telah menebar simbol ‘awas’  yang sewaktu-waktu bisa meluapkan air bah yang bisa meredam Kota Semarang.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *