Sistem Cashlesh Sangat Dibutuhkan Untuk Smart City

SEMARANG (asatu.id) – Sistem ekonomi yang mendukung transaksi non tunai sangat diperlukan dalam Smart City. Hal tersebut mengingat cepatnya aktifitas masyarakat, sehingga kebutuhan percepatan waktu dalam bertransaksi akan berdampak positif kepada masyarakat Smart City untuk lebih produktif lagi dalam menggunakan waktunya.

Guru Besar Akuntansi Keberlanjutan dan CSR Unika Semarang, Andreas Lako mengatakan, untuk menuju Smart City terutama pemenuhan kecepatan bertransaksi, perlu adanya sosialisasi intens yang dilakukan pihak terkait seperti, pemerintah, perbankan, dan dunia usaha kepada masyarakat untuk nantinya memberikan edukasi terkait Smart City.

Andreas mencontohkan, untuk pembayaran non tunai dengan e-cash, masih adanya dunia usaha yang menggunakan pendekatan-pendekatan konvensional dalam pembayarannya. Seharusnya, dunia usaha juga ikut berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat terkait pembayaran non tunai.

“Seperti di rumah makan, café, atau restoran atau dunia usaha lain yang kebanyakan pengunjungnya adalah dari golongan menengah ke atas. Padahal, yang dilayani pelaku usaha itu termasuk masyarakat dari menegah ke atas, di mana sangat memperhatikan kualitas kecepatan. Mereka bukan lagi sensitive terhadap harga. Saya kira mereka tidak masalah untuk membayar sedikit mahal daripada harus mengantri dan menghitung uang di tempat pengantrian hanya untuk melakukan pembayaran,” ujarnya, Sabtu (16/9).

Contoh lain, ia menambahkan, dalam pembayaran gerbang tol dengan e-tol, perlu adanya survey terkait jumlah pengguna tol yang melintas, apakah itu kendaraan pribadi atau korporasi. Jika dalam survey lebih banyak dari pihak perusahaan atau korporasi yang menggunakan jasa tol, maka perlu adanya ketegasan untuk perusahaan menggunakan e-tol.

“Analisis mengenai data pengguna e-tol sangat diperlukan. Bisa dilihat juga, untuk pengendara yang sering melintas dari mobil pribadi atau perusahaan/korporasi, kalau kebanyakan dari korporasi, maka harus ditegaskan bagi perusahaan harus menggunakan dan memiliki e-tol,” imbuhnya.

Untuk gerbang tol sendiri, dirinya menerangkan, bisa juga menggunakan analisis terkait jumlah pengguna yang sudah menggunakan e-tol. Jika dalam hasil survey pengguna e-tol lebih banyak, maka gerbang tol yang masih menerapkan pembayaran konvensional dan non tunai bisa mengacu data tersebut.

“Seperti di e tol, kan kita pastinya harus mempunyai data, misal yang masih konvensional 30 persen, dan yang sudah menggunakan e-tol 70 persen. Nah dilihat dari data bisa di implikasikan di gerbang tol, di mana gerbang tol yang menggunakan e-tol ditambah dan yang menggunakan konvensional dikurangi untuk memberikan edukasi.” katanya.

Selain itu, pihaknya juga menyebutkan, dukungan seperti infrastruktur juga sangat diperlukan untuk mendukung Smart City. “Semisal pergerakan kecepatan masyarakat ini tidak diimbangi dengan infrastrutur yang memadai pastinya akan menimbulkan problem-problem yang lain. Lha ini yang harus diminimalisir,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *