Program RDRM Untuk Pencegahan Kekerasan

Caption: Salah satu bentuk treatmen di RDRM

SEMARANG (asatu.id) – Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) merupakan pengintegrasian antara pemerintah kota Semarang, dinas terkait, pakar psikolog, dan bagian hukum. Dengan adanya RDRM diharapkan bisa memberikan tindakan pencegahan terhadap bentuk kekerasan kepada perempuan dan anak.

“RDRM itu dibawah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dimana di RDRM sendiri memiliki program-program untuk pencegahan kekerasan perempuan dan anak. Salah satunya bullying,” ujar Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, Jumat (15/9).

Wakil Wali Kota yang akrab disapa Ita ini menambahkan, Geber Septi (Gerakan Bersama Sekolah Semarang Peduli dan Tanggap Bulling) merupakan salah satu program andalan di dalam RDRM.

Geber Septi sendiri merupakan layanan konsultasi Psikologi dan edukasi dalam rangka pencegahan dan penanganan terhadap kasus bullying, yang dapat diakses melalui alamat websitegebersepti.SemarangKota.go.id. Dalam website tersebut, baik Orang Tua, Siswa, bahkan Guru dapat melakukan konsultasi secara online terkait permasalahan yang dihadapi secara gratis tanpa perlu takut identitasnya bocor sampai keluar.

Selain Geber Septi, RDRM juga mempunyai beberapa fasilitas seperti ruang pemulihan anak, ruang konseling, dan Molin (Mobil Keliling) yang melayani antar jemput konsultasi serta assesment bimbingan psikologi kepada korban maupun pelaku kekerasan anak dan perempuan. “Jadi kita berikan senyaman mungkin pelayanan, Molin sebagai jemput bola karena kadang korban bullying atau kekerasan malu sehingga kita datangi dengan tetap identitas kerahasiaan dijaga,” imbuhnya.

Kedua program itu menurut Ita, sapaan Wakil Walikota, juga akan memberikan edukasi dengan mendatangi sekolah-sekolah untuk pemahaman dan sosialisasi pencegahan bullying.

“Kita juga berikan pengenalan dan pelatihan kepada Guru BK sekolah. Edukasi ini menyeluruh baik guru dan siswa mulai dari SD, SMP, dan SMA,”ucapnya.

Lebih lanjut, Ita menjelaskan, bahwa saat ini sudah ada 34 laporan terkait kekerasan yang dilatarbelakangi banyak hal. “Tapi untuk pastinya kita tidak tahu, karena itu sudah masuk kode etik piskolog. Tapi untuk munculnya kekerasan itu kan bisa disebabkan banyak faktor, mungkin karena watak, temperamental, bisa juga masalah ekonomi,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *