Akademisi Ini, Sebut 3 Permasalahan Terjadinya Konflik Rohingya

SEMARANG (asatu.id) – Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rodiyah sebut tragedi kemanusian yang menimpa warga Rohingya di Rakhine Myanmar di picu oleh beberapa faktor.

Rodiyah menilai, terdapat tiga faktor pokok yang menjadi permasalahan kemanusiaan tersebut.

“Pertama, adanya dua era kepeminpinan yang sama-sama berkekuatan militer, kemiskinan dan juga adanya kilang minyak disana,” ujarnya saat memberikan keterangan persnya di Ruang GSG FH Unnes, Senin (4/9).

Dua kekuatan, lanjut Rodiyah, ialah yang satu secara historis dipimpin oleh keluarga Aung San Suu Kyi yang notabene masyarakat sipil namun juga memiliki power militer dan kedua kekuatan militer era sebelum Aung San Suu Kyi.

Rodiyah, mengungkapkan kondisi kemiskian di Myanmar juga menjadi faktor berikutnya. Kemisikinan disana, ujarnya, sungguh luar biasa, sehingga hal itu juga memicu terjadinya konflik sosial, politik, dan budaya.

Sementara itu, beber Rodiyah, Pemicu kentara terjadinya konflik ialah kilang gas luar biasa yang dimiliki Myanmar.

“Saya melihat di sana ada ketidakadilan dalam pemanfaatan (gas) karena dijual hanya untuk negara tertentu tanpa menggunakan pasar bebas. Sudah kelihatan sekali,” pungkas Rodiyah sembari tak mau menyebut negara pengimpor gas Myanmar yang dimaksud.

Menurut Rodiyah, konflik Rohingya sudah terjadi sejak Burma (sebelum diganti Myanmar) merdeka pada 1948. Rodiyah menuturkan etnis Rohingya memang berasal dari Bangladesh yang kemudian di era perang dunia kedua, mereka bermigrasi ke Myanmar.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *