BNNP Jateng Mengaku Tak Bisa Memetakan Napi Pengedar Narkotika di Dalam Lapas

 

CAPTION – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah akan terus berusaha memperketat pengawasan peredaran narkotika.

SEMARANG (asatu.id) – Maraknya pengendalian peredaran narkotika dari dalam Lapas, membuat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah akan terus berusaha memperketat pengawasan untuk lebih maksimal lagi. Hanya saja, Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengaku tidak bisa memetakan satu-satu narapidana yang bisa mengendalikan peredaran narkotika di dalam Lapas. Dari banyak kasus yang ada dan memang terungkap kalau peredarannya memang dilakukan dari dalam Lapas.

“Kami sudah mendengar dan monitor bahwa adanya temuan kasus peredaran narkotika yang ternyata semua itu dikendalikan dari Lapas Nusakambangan oleh napi bernama Aseng. Saya kira kita akan terus melakukan kerjasama dalam merazia para napi yang ada indikasi bisa mengendalikan peredaran narkoba,” ujarnya, ditemui usai kegiatan pisah sambut Kakanwil Kemekumham Jateng, Rabu (2/8).

Menurutnya, selama ini selalu ada dugaan kalau itu pasti didahului dari internal petugas sipir Lapas. “Kami sendiri yakin bahwa sebenarnya tidak ada keterlibatan, itu hanya keahlian dari para napi tersebut dalam menyimpan barang bukti hp, yang digunakan untuk koordinasi dengan pihak luar. Saya kira itu sudah menjadi kelihaian mereka. Kita harus terus perketat lagi untuk bisa melakukan pengawasan lebih maksimal lagi,” katanya.

Agus mengungkapkan, koordinasi dengan Kanwil Kemenhumham Jateng sudah baik, karena Kakanwil pada waktu itu pun sudah komitmen, terutama terkait pencegahan narkotika di wilayah Lapas. “Karena saat kami mendapatkan informasi yang didapat di luar, dengan hanya menelpon 5 menit saja sudah bisa ditangkap pelakunya beserta barang bukti yang ada. Saya kira komitmen dari Kemenkumham cukup baik dan sudah dikoordinasikan dengan Lapas,” ucapnya.

Sebelumnya, satuan Tugas Narkoba Bareskrim Polri telah menggagalkan peredaran 120 bungkus narkotika jenis ekstasi. Diduga berasal dari sindikat jaringan Internasional Belanda. Dari 120 bungkus tersebut, setelah dihitung terdapat 1,2 juta butir ekstasi.

Tersangka pertama yang ditangkap yakni An Liy Kit Cung alias Acung di Kecamatan Paku Haji, Tangerang. Dirinya mengaku diperintah seorang narapidana di lembaga pemasyarakatam Nusakambangan bernama Aseng. (yoga arif)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *