Modal Usaha Jadi Kendala Pengembangan Usaha Kreatif

KREATIF – Para pembicara dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Seri Kelas Keuangan (SKK) Usaha Kecil dan Menengan (UKM) Kreatif yang kedua di Semarang, Rabu (26/7).

SEMARANG (asatu.id) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyadari jika permodalan menjadi salah satu kendala bagi pelaku usaha dalam mengembangkan usaha kreatifnya.

Untuk itu, dalam kegiatan Seri Kelas Keuangan (SKK) Usaha Kecil dan Menengan (UKM) Kreatif yang kedua di Semarang, Rabu (26/7).

Bekraf mencoba membekali pelaku kreatif kemampuan untuk mengakses permodalan perbankkan syariah dari sisi administrasi dan teknis di lapangan, melalui pelatihan permodalan, perencanaan bisnis, dan pengelolaan keuangan.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi kreatif (Bekraf) Indonesia, Fadjar Hutomo, disela-sela kegiatan, mengatakan ada 100 pelaku UKM kreatif yang menghadiri acara tersebut, telah menjalankan usahanya selama satu tahun, memiliki brand, dan mempunyai rencana ekspansi usaha.

“Bekraf berharap, 100 pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) yang hadir paham cara membuat laporan keuangan dan cara mengelola keuangan pribadi dan usahanya. Kedepannya, mereka bisa mendapatkan pendanaan dari perbankkan syariah dan koperasi syariah untuk ekspansi usaha,” ujarnya.

Menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut diantaranya Anggota Komisi X DPR RI Yayuk Basuki, Konsultan bisnis, founder dan CEO QM Financial Ligwina Hananto, dan juga direncanakan akan dihadiri Praktisi Keuangan Syariah Mohammad B Teguh, sebagai pembicara di hari kedua, Kamis (27/7).

Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi BI Jateng, Dian Nugraha mengungkapkan terkait permodalan dibagi menjadi 2, yakni tataran kebijakan yang mewajibkan kepada perbankkan itu minimal 20 persen untuk menyalurkan pembiayaannya ke UMKM.

Kalau berdasarkan data yang ada, seharusnya 2018 sudah tercapai minimal alokasi untuk kredit atau pembayaran pembiayaan kepada UMKM.

Sedangkan dalam dataran operasional, BI ada departemen khusus yang memandu UMKM.

“Untuk kantor perwakilan seperti BI Jateng, ada divisi khususnya, yang juga berusaha untuk mencetak wirausaha muda dengan memberikan pelatihan atau pembekalan. Dimulai dari mahasiswa ketika mereka duduk di perguruan tinggi. Beberapa alumninya sekarang bahkan sudah ada yang menjadi pelaku industri ekonomi kreatif,” paparnya. (yoga arif)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *