Barang Baru, Komisi X Siap Mendukung dan Mendorong Ekraf

PEMBICARA – Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki saat diminta menjadi pembicara dalam Seri Kelas Keuangan UKM Kreatif, di Kantor Perwakilan BI Semarang lantai 8, Rabu (26/7).

SEMARANG (asatu.id) – Selama ini dalam ruangan Komisi X, pembahasan terkait Ekonomi Kreatif (Ekraf) memang terbilang agak keras.

Hal ini karena Ekraf merupakan nomenklatur atau ‘barang’ baru, sehingga coba mendorong lebih maksimal sebagai bentuk dukungan.

“Kita ingin agar pertumbuhan dari pelaku-pelaku kreatif, perlu untuk lebih digerakkan. Di Jawa Tengah khususnya, para pelaku dari industri ekonomi kreatif atau UKM sebenarnya sangat potensial. Misalnya produk kerajinan tangan dari Kendal sendiri yang telah sering kami memakainya,” demikian disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, disela-sela kegiatan Seri Kelas Keuangan UKM Kreatif, di Kantor Perwakilan BI Semarang lantai 8, Rabu (26/7).

Walaupun begitu, menurut data yang ada jika produk unggulan yang ada saat ini masih datang dari sektor makanan. Khususnya di Kota Semarang sendiri cukup banyak.

“Intinya kami mendukung program-program dari Bekraf agar lebih terpacu dan keunggulannya mulai kelihatan. Kendala yang ada, contohnya pelaku ekonomi kreatif ini belum legal sehingga perlu dibimbing. Dari sisi keuangan juga masih perlu dibimbing,” ujar anggota DPR RI dari PAN tersebut.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi kreatif (Bekraf) Indonesia, Fadjar Hutomo menyatakan pihaknya dengan Komisi X sudah menyepakati untuk bisa meraih target yang ada.

“Mengenai poin penting yang mendasar barangkali seperti menajamkan lagi definisi ekonomi kreatif. Karena ternyata belum semua memiliki pahaman yang sama terhadap hal tersebut. Termasuk 16 sub sektor yang ada di dalamnya,” paparnya.

Koordinasi juga diperlukan karena ekonomi kreatif ini lintas sektor, bukan sekedar tugas dari Bekraf. Sehingga ekonomi kreatif ini bukan hanya untuk kepentingan dari Bekraf itu sendiri.

“Sinergi dari lintas kementerian pun perlu dilakukan, seperti dari kementerian perindustrian, perdagangan, ukm, hingga pariwisata, dan keuangan,” ucapnya.

Akses permodalan di Bekraf terdiri atas dua direktorat yakni akses perbankkan dan non perbankkan.

Untuk perbankkan, tentunya akan berhubungan dengan perbankkan konvensional dan syaraiah.

“Sedangkan non perbankkan banyak berhubungan dengan modal ventura dan dana masyarakat. Untuk dana masyarakat itu ada cross funding, pasar modal, filantropi, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (yoga arif)

148

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan