Pemkot Harus Bisa Padukan Program dan SDM Masyarakat

SEMARANG (asatu.id) – Program Pemkot Semarang untuk membangun ratusan homestay di Desa Wisata Kandri selaras dengan kebijakan Kemenpar untuk mengembangkan konsep homestay di daerah tujuan wisata tersebut.

Namun demikian, Pemkot melalui Disbudpar harus benar-benar mampu memadukan program ini dengan sumber daya yang sudah ada saat ini. Baik dengan masyarakat local di sana, maupun dengan sumberdaya lainnya.

“Apalagi dipastikan,  Pemkot akan bekerjasama Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) untuk mendatangakan 500 ribu turis mancanegara yang akan menginap di Kandri tahun depan,” ujar Koordinator Pegiat Wisata Kota Semarang, Gus Wahid, Sabtu (22/7).

Menurutnya, juga harus ada kesiapan mental penyambut turis asing mulai dari penggunaan bahasa asing hingga peralatan modern yang menjadi syarat mutlak.

“Generasi mudalah yang memiliki peran untuk belajar, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi guide baik guide bagi turis domestic maupun mancanegara. Persiapkan pula bekal pengetahuan mendalam mengenai Kandri, Kreo dan nilai historis Sunan Kalijaga dalam perkembangan desa ini,” imbuhnya.

Ia menambahkan, keterlibatan pelaku, pengamat serta konsultan wisata, ada baiknya juga diperhitungkan. Dari merekalah akan terdapat banyak masukan, kritik dan saran membangun untuk mewujudkan Kandri yang bercitara internasional namun tetap memegang teguh prinsip local tradisional.

“Harapannya ke depan, atraksi budaya semacam Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo, jugaa harus mendapat sentuhan asing. Setidaknya, ada penerjemah asing berbahasa Inggris yang memandu pengunjung,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *