30 SMP di Semarang akan Implementasikan 5 Hari Sekolah

SEMARANG (asatu.id) – Sekolah di Semarang yang ingin mengimplementasikan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan pola belajar 5 hari harus memenuhi ketentuan yang ditentukan Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, Kamis (20/7).

Bunyamin menyebutkan, prinsipnya semua sekolah yang ingin mengimplementasikan program PPK boleh melaksanakan pembelajaran 6 hari maupun 5 hari.

Namun, untuk sekolah yang ingin melaksanakan 5 hari sekolah harus melakukan koordinasi, pertama dengan orang tua siswa, warga sekolah, guru, termasuk siswa dan stakeholders lainnya yang mendukung program 5 hari sekolah.

“Kedua, sekolah harus melihat fasilitas sekolah yang dimiliki. Pelaksanaan sekolah 5 hari tidak boleh menjadikan kegiatan belajar mengajar terganggu karena fasilitas yang tidak ada. Dan terakhir, sekolah juga harus mengetahui kegiatan apa saja yang bisa mendukung efektifias belajar,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya meminta, agar sekolah juga harus mengimplementasi kurikulum 2013 karena di kurikulum ini pendidikan karakternya kuat.

Ia menambahkan, SMPN 2 Semarang dan SDN Sendangmulyo 2 Semarang telah menjadi pilot project nasional pelaksanaan sekolah 5 hari yang dapat dicontoh.

“Sekolah tinggal melihat dan mencontoh apa saja yang dilakukan di dua sekoah tersebut,” katanya.

Di Semarang, sudah banyak sekolah yang melaksanakan belajar 5 hari sebelum adanya kebijakan Kementerian Pendidikan ini.

Di antaranya seperti di SD Nasima, Al Azhar, Dwi Tunggal, dan lainnya.

Ia menyebutkan, ada 30 SMP di Semarang yang telah mengajukan diri untuk mengimplementasikan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan pola belajar 5 hari.

“Disdik Semarang nanti akan melakukan verifikasi bagi sekolah-sekolah yang mengajukan diri untuk menerapkan sekolah 5 hari. Induknya penguatan pendudukan karakter, bukan full day school,” tukasnya.

358

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan