Brantas Pungli, Mahasiswa Undip Ciptakan Jembatan Timbang Otomatis

SEMARANG (asatu.id) – Sekelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) berinovasi membuat sebuah alat Smart Weigh Identification System of Freight Trasport (Swift) yang berfungsi menjadi sensor untuk truk yang kelebihan beban muatan.

Sekelompak mahasiswa yang terdiri dari Rofiq Cahyo Prayogo, Ismulia Nur Berlian, Ajeng Kartika Nugraheni Safitry, Rio Julian Azis Pratama, dan Gilang Dimas ini merupakan binaan dari Undip Robotics Development Center (URDC). Yang tergabung dalam tim Swift.

Juru bicara tim Swift Ajeng Kartika Nugraheni Safitry mengatakan, alat ini tercipta dari keprihatinan akan banyaknya pungutan liar (pungli) yang terjadi di jembatan timbang yang ada dan puncaknya saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo “ngamuk” di jembatan timbang Subah, Batang, beberapa waktu lalu.

“Sekarang kan jaman udah modern, mendorong mobilitas akan permintaan barang semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan data BPS tahun 2014-2015 bahwa pertumbuhan truk mencapai 12.407, akibatnya banyak truk pengangkut barang melebihi tonase yang menyebabkan jalan rusak dan pungli,” ujar Ajeng di Gedung Serbaguna Undip, Jumat (14/7).

Ditambah, lanjut dia, jembatan timbang yang ada masih menggunakan alat manual yang membuat kemacetan. Maka itu, alat otomatis ini diciptakan. “Dengan adanya Swift, kami berharap tidak ada pungli antar petugas dan awak truk dan kemacetan di jembatan timbang,” imbuh Ajeng.

Untuk sistem kerja alat Swift, Rofiq Cahyo Prayogo menambahakan, portal pada alat ini secara otomatis akan terkunci dan tidak bisa terbuka jika truk yang akan melewati jembatan timbang memiliki beban berlebih.

Kemudian, di plat nomor truk dipasang alat yang disebut Radio Frekuensi Identification (RFID) dan saat melewati jembatan timbang akan terdeteksi jenis serta batas angkut truk sejauh maksimal 15 meter. Jika truk mengangkut jumlah berlebih, maka portal tidak bisa membuka, sambung Rofiq.

“Namun jika sesuai ketentuan, portal membuka otomatis. Kemudian barang yang melebihi beban harus digudangkan agar truk bisa jalan kembali. Selain pengawasan melalui sensor, ada juga sistem yang mengirim pemberitahuan ke nomor telepon melalui SMS yang terintegrasi,” jelas Rofiq.

Menurut Rofiq, inovasi ini mulai dikerjakan pada Desember 2016 lalu degan biaya prototype sekitar Rp 6 juta. “Kalo dibikin aslinya (jembatan timbang) membutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta. Kami sudah menjalin komunikasi dengan Dinas Perhubungan,harapannya sih aplikasi ini bisa diterapkan di jembatan timbang yang asli,” pungkas Rofiq.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *