Ganjar Melindungi Industri Pertembakauan Daerah

SEMARANG (asatu.id) – Kegiatan pertanian tembakau dan banyaknya industri rokok yang gulung tikar serta bergeser kepemilikan kepada pihak asing, sangat disayangkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Menurutnya, selama ini dirinya memang berusaha untuk terus melindungi keberadaan industri daerah rokok, khususnya yang ada di wilayah Jateng. Karena melihat efek yang sangat besar bila kemudian RUU Pertembakauan jadi disahkan, bisa berimbas terjadinya gejolak pada kondisi perekonomian daerah.

“Bahkan dulu sebelum menjadi Gubernur, saya pernah berdebat sengit dengan Menkes (red, pada waktu itu) terkait keberadaan pertanian tembakau dan industri rokok. Menkes memang menolak keberlangsungan ini, sementara saya berada di kubu yang berseberangan. Mereka menyangka saya melakukan ini karena saya perokok, padahal tidak. Saya berusaha melindungi keberadaan petani, pelaku usaha maupun pabrik rokok di daerah,” paparnya, Selasa (11/7).

Sementara itu, Ketua rombongan Tim Pansus RUU Pertembakauan DPR RI, Bambang Hariyadi mengungkapkan Jateng merupakan daerah nomer 3 terbesar penghasil tembakau di Indonesia. Sehingga kunjungan kerja (kunker) tersebut dianggap sesuai, dimana pihaknya berkeinginan untuk mendapatkan masukan dan info tentang tembakau.

“Kami ingin mendapatkan informasi dari berbagai pihak, mulai petani, pelaku usaha, hingga pemagku kebijakan. Karena hal ini cukup krusial, mengingat tembakau merupakan sumber APBD yang besar dibandingkan nilai ekonomi produk lainnya,” tukasnya.

Menurutnya, kunker tersebut juga diperuntukkan guna menjembatani berbagai pihak, baik yang pro maupun kontra. Untuk itu, perlu mendengar semua masukan dari semua pihak yang ada.

“Kami harapkan masukannya yang terlibat dalam pertembakauan ini, baik dari petani, serikat pekerja rokok, pabrikan, serta pemerhati kesehatan. Jadi kami berharap RUU ini, yang merupakan inisiatif DPR ini, bisa mengakomodir semua kepentingan yang ada di masyarakat. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) sendiri menganggap bahwa import yang berlebihan menjadikan produksi hasil panen yang melimpah menjadi terabaikan. Sehingga harga tembakau menjadi sangat rendah,” paparnya. (yoga arif)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *