Artika Sari, Kartini Pengadil Lapangan Futsal

Sosok Kartini masa kini, Anik Yuni Artika Sari yang berprofesi sebagai wasit futsal (Imboh Prasetyo/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Anik Yuni Artika Sari dara kelahiran Pati 7 Juni 1992 lalu ini mungkin menjadi salah satu sosok Kartini masa kini, pasalnya mahasiswa tingkat akhir Pendidikan Matematika Universitas PGRI Semarang ini merupakan salah satu pengadil lapangan alias wasit olahraga futsal profesional wanita dari Provinsi Jawa Tengah.

Mungkin banyak diantara kita berpandangan bahwasannya pengadil futsal identik dengan sosok pria, namun Tika sapaan akrabnya itu menunjukkan bahwa kesetaraan gender di Indonesia sudahlah terwujud sesuai cita-cita RA Kartini.

Tika menuturkan kepada asatu.id, dirinya mengambil lisensi serta menjadi seorang wasit futsal sekitar 2 tahun yang lalu. Dia menambahkan, tahun 2016 lalu dirinya sudah mendapatkan lisensi nasional yang lantas menjadikannya sebagai wasit profesional.

Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu dirinya memimpin UPI APK Permata vs Jaya Kencana Angels dalam laga Women Pro Futsal League. Menurutnya hal tersebut merupakan pengalaman yang paling menarik dan tak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya sebagai seorang wasit.

“Itu merupakan sebuah impian semua wasit nasional, untuk bisa memimpin laga profesional. Alhamdulillah kemarin saya habis tugas dari Lombok dan Jogja juga,” bebernya.

Berprofesi menjadi wasit, imbuhnya, bukan perkara yang sulit. Baginya futsal sudah mendarah daging di tubuhya.

“Kebetulan sebelum jadi wasit saya pernah menjadi seorang pemain, gabung di beberapa club di Semarang dan Jateng. Alhamdulillah, saya sudah paham tentang law of  the game (peraturan tentang futsal) jadinya membantu saya dalam bertugas,” ugkapnya.

Namun terkadang, Tika meneruskan, yang perlu di tingkatkan untuk menjadi seorang pengadil lapangan itu adalah mental atau keberanian di lapangan dalam mengambil sebuah keputusan, karena selama dirinya menjadi wasit dirinya tidak hanya memimpin pertandingan wanita saja namun pertandingan laki-laki juga.

“Terkadang pemain laki-laki lebih banyak protes apabila mendapat kartu ditambah kalau timnya itu ketinggalan poin. Kalo protes mah udah jadi makanan bagi wasit. Namun demikian saya tetap berusaha profesional, tegas, dan nggak terpengaruh dengan apapun,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *