Gerobak Batja : Sederhana, Menumbuhkan Minat Gemar Membaca

SEMARANG (asatu.id) – Berawal dari keprihatinan mengenai kondisi minat baca yang rendah di Indonesia, Widiantoro bersama koleganya yang merupakan alumni SMAN 3 Semarang, memprakarsai berdirinya Komunitas Gerobak Batja.

“Waktu itu, hasil survey bahwa negara kita berada di posisi 60 dari 61 tentang literasi. Dari situ kami merasa prihatin, sebegitu minimnya minat masyarakat kita untuk membaca,” jelas Widiantoro pendiri Gerobak Batja, saat dihubungi asatu.id, Rabu (29/3).

Dari obrolan grub aplikasi whatsapp bersama koleganya serta keprihatinan akan minat baca masyarakat yang rendah, lantas tercetuslah konsep taman bacaan (perpustakaan) yang unik dan baru yaitu menggunakan gerobak.

“Kami memilih media gerobak dengan pertimbangan bentuknya yang sederhana dan humanis. Kemudian kita letakkan buku-buku itu disana (gerobak) yang kemudian kami coba hadirkan bagi masyarakat setiap Minggu pagi,” katanya.

Menurutnya, pemilihan hari Minggu lantaran Minggu merupakan hari keluarga. Di hari itu biasanya banyak orang berkumpul dan bersantai di beberapa taman.

Gerobak Batja resmi dihadirkan di tengah-tengah masyarakat mulai 11 September 2016 yang dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Pertamanan, Kecamatan serta Kelurahan untuk melihat langsung bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang tidak mengandung komersialisme.

Widi juga menambahkan, kegiatan Gerobak Batja sampai menarik perhatian komedian Ernest Prakasa. “Ernest kebetulan teman, terus dia juga sudah menyumbang sejumlah buku ke taman bacaan kami. Hingga saat ini, sudah terkumpul sebanyak 8000 buku dari donasi anggota, masyarakat bahkan Pemerintah Kota. Buku-Buku tersebut akan dirotasi setiap 3 bulan agar pembaca tidak bosan,” tutupnya.

Panji Suryo Nugroho salah satu pengurus Gerobak Batja Semarang, menerangkan selain Gerobak Batja terdapat juga rak baca di Hanacaraka Cafe serta taman pintar Gunungpati.

“Senang bisa menghadirkan buku di tengah masyarakat dengan konsep sederhana dan humanis dimana orang bisa membaca, mendapatkan ilmu, serta bermain dengan santai. Awalnya kita tester, selama 2 minggu di Taman Tirto Agung Banyumanik, ternyata antusiasme warga sekitar tinggi sehingga kegiatan tetap berjalan hingga sekarang,” katanya.

Panji menjelaskan, selain menghadirkan buku bacaan, komunitas ini juga sering mengadakan event kecil yang mengundang beberapa komunitas lain untuk bergabung setiap minggunya.

Hal tersebut bertujuan untuk menambah pengetahuan lain serta lebih menarik minat warga yang datang. Komunitas yang pernah bergabung diantaranya Komunitas Menggambar, Komunitas Satwa, Komunitas Cosplay dan masih banyak lagi.

“Sistemnya, siapa saja boleh baca dan pinjam tapi langsung di kembalikan hari itu juga untuk mengantisipasi buku hilang sekaligus mendidik orang untuk tanggung jawab. Jadi setiap habis baca di kembalikan ke tempatnya. Selain itu, karena buku tidak bisa dibawa pulang jadi orang ada alasan untuk balik lagi membaca,” imbuhnya,

Ada sebutan unik untuk anggota komunitas yaitu Para Pendorong Gerobak. Bukan tanpa kendala, komunitas baca ini memiliki kendala pada cuaca.

“Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah cuaca. Lantaran berkonsep terbuka, jika hujan turun, kegiatan pasti dihentikan atau ditiadakan,” terangnya.

Komunitas yang sifatnya terbuka ini membuka kritik dan saran terutama dari pengunjung supaya lebih baik melalui website, facebook, twitter, instagram, path, serta whatsapp grup (gerobakbatja). Untuk alamat terminal buku berada di Jalan Jomblang Sari No. 4 RT. 01 RW. 01 Kelurahan Jomblang, Semarang.

“Kami berharap gerobak batja dapat menggerakan masyarakat untuk lebih peduli akan permasalahan literasi di negeri ini, Mudah-mudahan ke depan makin banyak gerakan-gerakan semacam gerobak batja di Semarang bahkan di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Panji.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *