Baru 2 Hari Digelar, Brotherfood Fest Diserbu Ribuan Pengunjung

(Imboh Prasetyo/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Baru dua hari digelar, puluhan ribu pengunjung serbu acara Brotherfood Festival 2017. Festival Kuliner yang digelar oleh komunitas Brotherfood Semarang itu diadakan di Pasaraya Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang.

Selama acara berlangsung terlihat para pengunjung hilir mudik, datang dan pergi hingga membuat suasana festival kuliner itu semakin meriah.

Firdaus Adinegoro selaku Koordinator Komunitas Kuliner Brotherfood Semarang menerangkan bahwa festival tersebut merupakan gelaran yang kedua ditahun ini, sebelumnya juga sudah sukses digelar festival kuliner ditempat yang sama.

Lebih lanjut, dia menuturkan, bahwa festival makanan tersebut di mulai sejak hari Senin (27/3) hingga hari Minggu (2/4) nanti.

“Mulai Senin hingga hari ini (Selasa) pengunjung sudah mencapai 7000 orang dan akan terus bertambah. Ya, itu diatas ekspektasi kami,” bebernya saat ditemui asatu.id disela-sela kesibukannya mengkoordinir acara, Selasa (28/3) sore.

Kali ini, imbuhnya, Brotherfood Festival 2017 membawakan konsep makanan tradisional dan kekinian.

“Tidak hanya dari Semarang saja, namun ada dari luar Semarang, Rembang contohnya. Tujuan kami usung konsep ini adalah untuk memberikan ruang bagi keluarga, baik kalangan dewasa, remaja, hingga anak-anak dapat memilih makanan sesuai dengan keinginannya,” jelasnya.

Dia mencontohkan, terdapat Sate Serepeh asal Rembang yang hampir punah, Sup Gorontalo, Soto Banjar, Mangut Belut, serta banyak menu makanan tradisional lainnya.

(Imboh Prasetyo/asatu.id)

“Kalau yang kekinin, ada Turkish Ice Cream, Cumi Bakar, Sate Ayam Kerepek, Nasi Bakar, Sate Tulang, Bakso Beranak, Pempek Beranak, Minuman bentuk Elpiji, komplit pokoknya,” katanya.

Dari pantauan asatu.id terdapat 60 stan memadati Brotherfood Festival 2017 itu. Tak hanya kuliner saja, namun terdapat juga stan fashion yang turut meramaikan.

“Melalui konsep ini kami berharap, makanan tradisional dapat dikemas dengan lebih modern tanpa meninggalkan esensinya. Yang terpenting, keberadaan makanan tradisional terutama yang sudah sulit dijumpai dapat diketahui banyak kalangan terutama anak muda,” pungkasnya.

Sebelum mengakhiri oborolan dengan asatu.id, Firdaus menambahkan, pada Lebaran nanti pihaknya juga akan menggelar festival kuliner dengan konsep makanan tradisional Kota Semarang.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *