Dialog Sopir Angkot dan Pemkot Semarang Mengalami Jalan Buntu

SEMARANG (asatu.id) – ‎Dialog antara perwakilan sopir angkot dengan pemerintah kota Semarang berakhir deadlock berakhir tanpa keputusan. Dialog tersebut dipimpin Asisten I Setda Kota Semarang, Tridjoto Sardjoko dan dihadiri Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Tri Wibowo dan perwakilan sopir angkot.

Dalam dialog beberapa kali kalangan sopir angkot menyuarakan yang intinya penolakan jalur Bus Rapit Transit (BRT) koridor V dan VI. Dialog berlangsung panas karena para supir memaksa harus ada keputusan membatalkan jalur baru tersebut.

Ketua Paguyuban Supir Angkot C 10, Toto Hardiyanto mengatakan, jika koridor 6 rute Undip-Unnes diluncurkan akan mengancam angkot yang menurutnya berada di jalur ranting tersebut. “Kondisi para supir sekarang itu sulit, akan tambah sulit dengan keluar dua koridor lagi,” ujarnya, Rabu (8/3).

Sopir angkot R8E jurusan Undip-Ngesrep, Prayogo, mengaku menolak BRT masuk kampus. Hal tersebut akan menambah bebannya karena menurutnya saat ini ngejar setoran yang dibanderol tinggi saja sulit. “Apalagi nanti ada BRT. Belum lagi juga ada Gojek. Sebelum ada BRT koridor III setoran Rp 60 ribu dan pendapatan Rp 60 ribu. Sekarang untuk setoran saja malah kadang tombok.,” ujarnya

Sementara itu Tridjoto Sardjoko mengatakan sudah menangkap semua aspirasi dan unek-unek para sopir. “Ada 3 hal yang kami tangkap dan sudah kami catat. Teknis nanti dibicarakan lebih lanjut secara langsung antara perwakilan supir angkot dengan Dishub,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *